MARKETING BAHLUL

Perilaku Marketing Bahlul 1

       Secara tidak sengaja, ternyata bagian terakhir yang saya tulis dari buku ini adalah bagian yang Anda baca sekarang. Bagian ini memang terasa agak susah, karena saya harus membuat definisi tentang marketing “spiritual”, marketing “gaul”, dan marketing bahlul dalam bentuk cerita. Tentu definisi ini belum pernah ada di buku mana pun, karena hanya bisa dibuat oleh penulis “bahlul[1] juga, he he. Saya juga harus berusaha keras mengingat kembali siapa teman-teman pelaku bisnis saya yang masuk dalam ketiga kategori atau tipologi ini.

          Ada cerita lucu. Ketika sedang asyik menulis bagian ini di cafe, lobby apartemen tempat saya tinggal, hampir tiap malam kira-kira antara jam 9—10, ada seorang bule bolak-balik menjemput wanita cantik di lobby, di depan mata saya. Pagi harinya, sekitar jam 8—9 sehabis fitnes, biasanya saya duduk baca koran, sambil ngopy di cafe lobby yang sama. Ternyata si bule semalam lewat lagi ngantar pulang “gebetannya” yang habis “digarap” semalaman. Hampir setiap hari seperti ini, dengan wanita yang berbeda-beda.

          Akhirnya saya tidak tahan melihat kelakuan si bule. Saya panggil baik-baik, “Sorry, Sir.. Saya ketua PPRS[2] di apartemen ini. Setiap malam saya liat you jemput wanita di lobby, sambil you peluk masuk ke lift. You tau kalau di apartemen ini banyak keluarga, dan banyak anak kecil? Sorry, kalau Anda bawa perempuan, tolong jangan dipeluk apalagi dicium di lobby. Ini Indonesia Sir.. bukan Eropa, bukan Amerika, you know? Saya akan usir Anda kalau tetap Anda lakukan ini. Ok?”  



          Si bule kelihatan keberatan. Dia bilang, “That’s my privacy!” Dengan bahasa Indonesia yang cukup lancar, dia bilang, “Apakah saya tidak berhak karena saya juga menyewa dan tinggal apartemen ini?” Saya berdiri dari tempat duduk. Saya benar-benar mau marah! Belum juga saya bicara, dia tarik tangan saya, salaman, sambil merunduk minta maaf, “…did I make a mistake?
 
Kami kemudian berkenalan. Saya sarankan dia naik lift dari basement. Dan, di lift tidak boleh macam-macam, apalagi kalau ada anak-anak. “You know we have CCTV in the lift?
 
          “Yes, yes,...” katanya mau ngerti, dan dia paham complain saya.
          Saya kemudian bincang-bincang lebih jauh. Rupanya dia seorang fund manager di sebuah perusahaan joint venture. Saya tanya, “Usia Anda sudah 45 tahun, kenapa harus ‘jajan’ terus, Sir. Kenapa tidak menikah saja.” 

          “Yah, ini sudah lifestyle saya. Saya lebih senang ‘kawin’ daripada ‘menikah’. Saya langganan dengan beberapa tempat clubbing saya, karaoke atau spa yang menyediakan sexy dancer atau lady escort yang bisa BO (booking out). Tapi kadang-kadang juga saya pesan lewat agency model.[3] Dia bisa kirim tiap malam ke saya dengan “menu” yang berbeda-beda. Kecuali Sabtu – Minggu,” katanya. 

          “Khusus weekend, saya ke bar, saya ke cafe, saya dugem di daerah Kota. Seputar ancol atau mungkin ke kawasan Kemang. Yah, sambil he he ‘barang impor’, Pak,” katanya dengan mimik wajah yang agak takut-takut.
Saya bilang, “Santai aja, bro... We’re friend.” 

          Di daerah Kota inilah dia joint dengan teman-teman bisnisnya. “Orang pribumi lo, Pak,” katanya sambil nyindir saya. “Bahkan, teman-teman yang pribumi itu jauh lebih ‘ganas’ daripada bule-bule gila (bugil) seperti saya, he he. Kami sambil minum (alkohol), karaoke, trus malamnya check in di hotel.” 

          Dia bilang, “Ini sudah menjadi lifestyle teman-teman bisnis saya. Mereka yang belum berkeluarga joint di malam Sabtu atau Minggu. Sedangkan para eksekutif yang sudah berkeluarga, lifestyle-nya pada hari-hari kantor, terutama pada ladies night. Jadi, malam Sabtu dan Minggu mereka ‘jaim’ (jaga image). Biasanya bersama keluarga. Tapi, itu lifestyle teman-teman yang munafik.” 

“Di rumah alim.. jaim. Tapi di luar, bahlul,” katanya lagi sambil ketawa.
Lifestyle seperti inilah yang dalam buku ini saya sebut perilaku marketing “bahlul”. Mereka sebagai profesional, sebagai eksekutif, dan sebagai orang marketing, tapi dalam menjalankan profesi, perilaku mereka tidak lepas dari sifat-sifat “mami juzi” (maksiat, minum, judi, dan zina). Fungsi marketing itu bukan hanya monopoli orang marketing, tapi fungsi dan jabatan lain pun dapat menjalankan fungsi marketing. Karena itu, pelaku bisnis yang bahlul, ya termasuk kategori marketing bahlul juga

          Saya punya seorang sahabat. Dia direktur perusahaan yang bergerak dalam bidang otomotif, trading, dan oil & gas. Lifestyle kawan ini bahkan lebih bahlul daripada si bule. Dia punya jaringan bisnis sampai manca negara. Dan itu dia.. jika parnert-parnert bisnisnya sudah datang, maka penyakitnya mulai kambuh. 

Dia bilang ke saya, “Kalau sudah kambuh, Bang, kelakuan aku ini da mirip syetan dah. Aku nyewa apartemen mewah khusus untuk pesta sex dengan teman-teman bahlul aku, Bang. Kalangan eksekutif muda yang seperti aku banyak yang seperti ini, Bang.  Di situ kami sekalian judi alias taruhan. Bukan hanya itu, kalau sudah bosen taruhan, kita pesta ganja. Aku dah cobain semua jenis ganja, Bang. Tapi alhamdulillah ga ketagihan lah, karena itu cuma untuk seru-seruan aja. 

       Kadang kami berangkat golf ke Bali atau pulau Bintang, tentu sambil bawa cewek-cewek cantik ke sana. Wah, kalau sudah di sana Bang, rasanya engga’ pengen balik lagi. Sepertinya dunia ini sudah milik sendiri. Astaghfirullah! Setan, Bang. Benar-benar hati ini isinya setan semua. Aku baru sadar kalau lagi ngobrol seperti ini, Bang. Kalau lagi ngelakuin, mana ingat dosa.” 

Dia menatap saya dengan mata yang berkaca-kaca. Trus dia ngomong, “...Bang, apakah Allah masih bisa menerima taubat saya. Rasanya semua pori-pori dan aliran darah di tubuh ini berisi bisikan setan. Hampir semua bisnis saya lakukan dengan ‘menghalalkan segala cara’. Lobby dengan pake wanita cantik, disuap dengan uang, di ajak bersenang-senang sambil judi, pokoknya semua cara kita lakukan. Kita “menghalalkan segala cara”. Inilah bisnis abad modern, Bang. Kita tidak akan mungkin survive kalau menghindari ini. Yah harus jadi pebisnis yang bahlul, karena lingkungan bisnis kita sudah bahlul semua. Investor bahlul, pinjam uang di bank harus bahlul, urus ke birokrasi harus bahlul, berurusan dengan polisi bahlul, hakim bahlul, jaksa bahlul, DPR terhormat bahlul, semuanya, Bang. Dunia ini memang sudah gila.”   

          Saya bilang, “Tidak semua mas, Insya Allah masih ada di antara mereka yang baik-baik. Kenapa Anda tidak berusaha menghindar?”

“Aduh, Bang! Kita akan menjadi manusia yang aneh. Bisnis kita tidak akan dipedulikan orang. Pergaulan kita juga engga’ bakalan diterima lingkungan bisnis. Kita akan menjadi pebisnis yang kampungan, pekerja profesional yang bodoh, eksekutif yang hidup di zaman batu. ‘gak’ bakalan, Bang. ‘Gak’ bakalan! Kita pasti menjadi ‘orang yang aneh’ sendiri....” 

Saya terdiam. Saya merenung. Demikian rusakkah dunia bisnis saat ini.  Betulkah kata kawan tadi, bahwa bisnis hanya mungkin survive apabila dikawal dengan lifestyle yang “bahlul”.  Benarkah orang yang menjalankan bisnis dengan tetap berpegang pada prinsip-prinsip syariah, memelihara etika, akan menjadi manusia yang aneh? 

Beberapa hari saya mencoba mencari jawaban. Saya coba telusuri kitab-kitab hadis. Saya cek ayat-ayat lewat Mu’jam Al-Qur’an (indeks Al-Qur’an). Begitu juga hadis-hadis lewat Mu’jam al-Hadis (indeks hadis). Saya kemudian ketemu sebuah hadis yang benar-benar tepat menjawab fenomena ini. Tengah malam saya setengah “teriak” di perpustakaan pribadi saya, “Yes!! Alhamdulillah.” 

Hadis ini bercerita tentang manusia-manusia aneh yang kelak akan muncul di suatu zaman, ketika dunia sudah benar-benar “bahlul”. Tapi Nabi bilang, “thuubaa lil ghurabaa” (berbahagialah ‘orang-orang yang aneh itu’). Rasulullah bersabda, “Islam mulai dengan aneh dan kembali lagi dengan aneh seperti permulaannya. Berbahagialah orang-orang yang aneh itu!”[4] Jadi, tentang mereka, Rasulullah pernah bersabda, “Berbahagialah ‘al-ghuraba’, orang-orang yang aneh ini.” Tanda-tanda mereka, seperti yang disebut oleh Rasulullah Saw., adalah:
          Pertama,mereka mencoba menimbulkan perbaikan ketika manusia sudah rusak.”[5] Dalam hadis yang lain disebutkan, “Mereka itu manusia-manusia yang saleh, yang jumlahnya sedikit, di tengah-tengah manusia durhaka.[6] Saat ini, dunia bisnis memerlukan sosok ‘al-ghuraba’ (pebisnis ‘yang aneh’), para pelaku bisnis yang tingkah lakunya asing, yang ingin memperbaiki lingkungan bisnis ketika “mami juzi” dan “sup”-nya (maksiat, minum, judi, zina, dan suap) sudah merupakan kebudayaan masyarakat. Kita memerlukan orang-orang yang beretika dan bermoral dalam menjalankan bisnis. Kita juga memerlukan orang yang adil, jujur, dan amanah dalam dunia bisnis. Para ahli fikih menyebut dengan satu istilah yang bagus sekali, “Dia suci dalam dirinya dan dia juga berusaha menyucikan orang lain.”

          Pribadinya bersih, dan dia berusaha membersihkan orang lain. Tingkah lakunya indah, dan dia berusaha mengindahkan tingkah laku orang lain. Di tengah-tengah orang yang sudah menganggap moralitas yang rusak sebagai ciri modern, orang yang mempertahankan moralitasnya merupakan orang yang dianggap aneh. Di tengah-tengah kebiasaan melanggar norma-norma yang berlaku, orang yang kelihatan bertahan kepada norma dengan seluruh keyakinannya akan dianggap aneh. Orang berlomba-lomba menumpuk kekayaan, korupsi, menghalalkan segala cara demi kelancaran bisnisnya, sementara ia menjauhkan diri dari semua itu karena ingin memelihara kebersihan dirinya, maka ia sering dianggap aneh oleh orang sekitarnya. Tetapi mari kita ingatkan kembali kata-kata Nabi, “Thuubaa lil ghurabaa” (Bahagia benar orang-orang yang aneh itu).

          Kedua, “Orang-orang yang bertambah (kebaikannya) ketika orang-orang lain berkurang (kebaikannya),”[7] sabda Rasulullah. Di dalam masyarakat, kita sering mencari orang yang kuat keyakinannya. Kadang-kadang kita meraba-raba, siapa orang yang patut dijadikan contoh dalam kehidupan ini. Ghuraba biasanya tampil sebagai manusia model, manusia yang bisa dicontoh karena kebersihan dan kesucian pribadinya, di tengah-tengah berkecamuknya kemunafikan, di tengah-tengah usaha untuk menjilat ke atas dan memeras ke bawah. 

          Kalau kita melihat  ada orang berjalan di atas rel yang benar, yang tetap menyampaikan bahwa apa yang benar itu benar, dan apa yang salah itu salah, tanpa memerdulikan risiko yang dihadapinya, rasanya ada semacam kekuatan di tengah-tengah kehausan bimbingan dalam diri kita. Masih ada bintang di tengah-tengah gelapnya malam. Orang itu biasanya mengisi apa yang hilang di tengah-tengah masyarakat. Ketika orang kehilangan identitas, mereka menunjukkan tuntunan yang jelas. Rasulullah bersabda bahwa al-ghuraba itu adalah, “Mereka yang menambah sesuatu yang tidak dimiliki kebanyakan manusia lain”.

          Ketiga, “Mereka menghidupkan kembali sunnahku setelah sunnah itu dimatikan oleh manusia,”[8] kata Rasulullah. Ketika para pelaku bisnis sudah banyak meninggalkan tuntunan agamanya, maka mereka mengajaknya kembali kepada al-Quran dan Sunnah. Ketika beberapa ajaran Rasulullah sudah ditinggalkan, mereka tampilkan kembali ajaran Rasulullah itu dalam keluarganya dan dalam prilaku mengelola bisnisnya sehari-hari.

          Dalam hubungan ini, saya ingin menyampaikan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi. Ada seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw, tentang ayat ini, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu, dan tidak akan memudharatkan kamu orang yang sesat apabila kamu berada dalam petunjuk.”[9] Sahabat ini bertanya karena sebagian orang menganggap bahwa tidak usah memerhatikan orang lain, perhatikan sajalah diri kita sendiri. Asal kita berada dalam petunjuk, tidak ada yang akan menyengsarakan kita.
 “Tidak,” jawab Rasulullah, “Tetapi, (mereka mendapatkan ganjaran) lima puluh orang dari kalian (yang ada sekarang ini)

          Maka Rasulullah Saw. menjawab, “Suruhlah orang berbuat ma’ruf, dan laranglah orang berbuat jahat sampai  nanti mengalami satu zaman ketika kebakhilan diperturutkan orang, ketika hawa nafsu diikuti orang, dan ketika dunia dilebihkan atas akhirat, dan setiap orang merasa kagum dengan pendapatnya sendiri. Maka peliharalah dirimu, jauhilah apa yang terbiasa dilakukan oleh orang-orang umum, sebab di belakang kamu itu akan ada zaman-zaman yang memerlukan kesabaran bagimu. Orang yang berpegang teguh kepada agamanya di zaman itu seperti orang yang memegang bara. Orang yang beramal pada zaman itu akan di beri ganjaran lima puluh orang yang beramal seperti dia, ’Aku bertanya, ”Hai Rasulullah, apakah mereka mempunyai ganjaran lima puluh kali ganjaran orang pada zaman mereka?”. ”Tidak”, jawab Rasulullah, ”mereka memperoleh ganjaran lima puluh kali ganjaran kamu yang ada sekarang ini”[10]

          Di sini Rasulullah menunjukkan bahwa akan datang satu zaman ketika orang yang memegang moralitas dan prinsip-prinsip agama dianggap aneh, dianggap ghuraba, sehingga lantaran keanehannya dia seperti menggenggam bara di tangannya. Bila dilepaskan, bara itu padam; bila dipegang, bara itu menyengat dirinya. Orang yang mempertahankan keyakinannya, orang yang ingin memelihara kebersihan sikap dan kepribadiannya, orang yang ingin menjalankan bisnis dengan moral dan etika yang sesuai syariah, dia hidup seperti memegang bara, dia selalu dalam keadaan panas. Karena itu pantaslah kalau kata Rasulullah, amal orang-orang seperti itu akan dilipatgandakan ganjarannya lima puluh kali ganjaran sahabat-sahabat Rasulullah Saw. Semoga Anda, para pebisnis, para profesional, para marketer, termasuk kelompok “orang-orang yang aneh” seperti ini. Thuubaa lil ghuraba (berbahagialah orang-orang  yang aneh itu).[11]

Sumber: Dikutip dari buku Muhammad Syakir Sula, “Marketing Bahlul, diterbitkan oleh Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2008. Hal 2-12.

(Download SYARIAH MARKETING)


[1] ”Bahlul”, bahasa gaul orang arab, artinya bandel, nakal, biasanya melekat di situ sifat-sifat yang negatif.
[2] PPRS (Perhimpunan Penghuni Rumah Susun), semacam ketua RW-lah kalau di perumahan. Bedanya, PPRS bertanggung jawab atas seluruh pengelolaan apartemen secara finansial.
[3] Maksudnya ”agency model” yang biasa menyediakan perempuan-perempuan “bispak” (bisa dipake). Ada beberapa agency model yang menyediakan cewek-cewek seperti ini, termasuk untuk kepentingan party. Tapi beberapa juga profesional sebagai agency model, bahkan ada yang membimbingnya ke arah yang spiritual seperti milik mantan model terkenal, Ratih Sang.
[4] Diriwayatkan oleh al-Thabrani dalam ketiga kitabnya (al-Mu’jam al-Shaghir, al-Mu’jam al-Awsath, dan al-Mu’jam al-Kabir).
[5] Ibid.
[6] Hadis ini terdapat dalam al-Musnad dan dinyatakan sahih oleh Syaikh Syakir. Demikian juga dikemukakan oleh Imam Al-Haitsami dalam kitabnya (Majma’ al-Zawaid, 7:278).
[7] Hadis Riwayat Imam Ahmad dalam Musnad-nya.
[8] Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam kitab al-Zuhd.
[9] Firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Maidah, ayat 105
[10] Hadis riwayat Abu Daud dalam Sunannya pada  “Kitab al-Malahim” hadis nomor 4341; Tirmidzi dalam “Kitab al-Tafsir”, hadis nomor 3060.
[11] Kang Jalal (Jalaluddin Rahmat) menjelaskan hadis ini dengan sangat indah, dalam bukunya  ”Khotbah-khotbah di Amerika, Penerbit CV Rosda, Bandung, 1989.

0 komentar:

Post a Comment

ITJ