Informasi Islam

Informasi Islam, ekonomi Islam

Islamic Economic

Islamic Bussines

MARKETING BAHLUL

Perilaku Marketing Bahlul 1

       Secara tidak sengaja, ternyata bagian terakhir yang saya tulis dari buku ini adalah bagian yang Anda baca sekarang. Bagian ini memang terasa agak susah, karena saya harus membuat definisi tentang marketing “spiritual”, marketing “gaul”, dan marketing bahlul dalam bentuk cerita. Tentu definisi ini belum pernah ada di buku mana pun, karena hanya bisa dibuat oleh penulis “bahlul[1] juga, he he. Saya juga harus berusaha keras mengingat kembali siapa teman-teman pelaku bisnis saya yang masuk dalam ketiga kategori atau tipologi ini.

          Ada cerita lucu. Ketika sedang asyik menulis bagian ini di cafe, lobby apartemen tempat saya tinggal, hampir tiap malam kira-kira antara jam 9—10, ada seorang bule bolak-balik menjemput wanita cantik di lobby, di depan mata saya. Pagi harinya, sekitar jam 8—9 sehabis fitnes, biasanya saya duduk baca koran, sambil ngopy di cafe lobby yang sama. Ternyata si bule semalam lewat lagi ngantar pulang “gebetannya” yang habis “digarap” semalaman. Hampir setiap hari seperti ini, dengan wanita yang berbeda-beda.

          Akhirnya saya tidak tahan melihat kelakuan si bule. Saya panggil baik-baik, “Sorry, Sir.. Saya ketua PPRS[2] di apartemen ini. Setiap malam saya liat you jemput wanita di lobby, sambil you peluk masuk ke lift. You tau kalau di apartemen ini banyak keluarga, dan banyak anak kecil? Sorry, kalau Anda bawa perempuan, tolong jangan dipeluk apalagi dicium di lobby. Ini Indonesia Sir.. bukan Eropa, bukan Amerika, you know? Saya akan usir Anda kalau tetap Anda lakukan ini. Ok?”  



          Si bule kelihatan keberatan. Dia bilang, “That’s my privacy!” Dengan bahasa Indonesia yang cukup lancar, dia bilang, “Apakah saya tidak berhak karena saya juga menyewa dan tinggal apartemen ini?” Saya berdiri dari tempat duduk. Saya benar-benar mau marah! Belum juga saya bicara, dia tarik tangan saya, salaman, sambil merunduk minta maaf, “…did I make a mistake?
 
Kami kemudian berkenalan. Saya sarankan dia naik lift dari basement. Dan, di lift tidak boleh macam-macam, apalagi kalau ada anak-anak. “You know we have CCTV in the lift?
 
          “Yes, yes,...” katanya mau ngerti, dan dia paham complain saya.
          Saya kemudian bincang-bincang lebih jauh. Rupanya dia seorang fund manager di sebuah perusahaan joint venture. Saya tanya, “Usia Anda sudah 45 tahun, kenapa harus ‘jajan’ terus, Sir. Kenapa tidak menikah saja.” 

          “Yah, ini sudah lifestyle saya. Saya lebih senang ‘kawin’ daripada ‘menikah’. Saya langganan dengan beberapa tempat clubbing saya, karaoke atau spa yang menyediakan sexy dancer atau lady escort yang bisa BO (booking out). Tapi kadang-kadang juga saya pesan lewat agency model.[3] Dia bisa kirim tiap malam ke saya dengan “menu” yang berbeda-beda. Kecuali Sabtu – Minggu,” katanya. 

          “Khusus weekend, saya ke bar, saya ke cafe, saya dugem di daerah Kota. Seputar ancol atau mungkin ke kawasan Kemang. Yah, sambil he he ‘barang impor’, Pak,” katanya dengan mimik wajah yang agak takut-takut.
Saya bilang, “Santai aja, bro... We’re friend.” 

          Di daerah Kota inilah dia joint dengan teman-teman bisnisnya. “Orang pribumi lo, Pak,” katanya sambil nyindir saya. “Bahkan, teman-teman yang pribumi itu jauh lebih ‘ganas’ daripada bule-bule gila (bugil) seperti saya, he he. Kami sambil minum (alkohol), karaoke, trus malamnya check in di hotel.” 

          Dia bilang, “Ini sudah menjadi lifestyle teman-teman bisnis saya. Mereka yang belum berkeluarga joint di malam Sabtu atau Minggu. Sedangkan para eksekutif yang sudah berkeluarga, lifestyle-nya pada hari-hari kantor, terutama pada ladies night. Jadi, malam Sabtu dan Minggu mereka ‘jaim’ (jaga image). Biasanya bersama keluarga. Tapi, itu lifestyle teman-teman yang munafik.” 

“Di rumah alim.. jaim. Tapi di luar, bahlul,” katanya lagi sambil ketawa.
Lifestyle seperti inilah yang dalam buku ini saya sebut perilaku marketing “bahlul”. Mereka sebagai profesional, sebagai eksekutif, dan sebagai orang marketing, tapi dalam menjalankan profesi, perilaku mereka tidak lepas dari sifat-sifat “mami juzi” (maksiat, minum, judi, dan zina). Fungsi marketing itu bukan hanya monopoli orang marketing, tapi fungsi dan jabatan lain pun dapat menjalankan fungsi marketing. Karena itu, pelaku bisnis yang bahlul, ya termasuk kategori marketing bahlul juga

          Saya punya seorang sahabat. Dia direktur perusahaan yang bergerak dalam bidang otomotif, trading, dan oil & gas. Lifestyle kawan ini bahkan lebih bahlul daripada si bule. Dia punya jaringan bisnis sampai manca negara. Dan itu dia.. jika parnert-parnert bisnisnya sudah datang, maka penyakitnya mulai kambuh. 

Dia bilang ke saya, “Kalau sudah kambuh, Bang, kelakuan aku ini da mirip syetan dah. Aku nyewa apartemen mewah khusus untuk pesta sex dengan teman-teman bahlul aku, Bang. Kalangan eksekutif muda yang seperti aku banyak yang seperti ini, Bang.  Di situ kami sekalian judi alias taruhan. Bukan hanya itu, kalau sudah bosen taruhan, kita pesta ganja. Aku dah cobain semua jenis ganja, Bang. Tapi alhamdulillah ga ketagihan lah, karena itu cuma untuk seru-seruan aja. 

       Kadang kami berangkat golf ke Bali atau pulau Bintang, tentu sambil bawa cewek-cewek cantik ke sana. Wah, kalau sudah di sana Bang, rasanya engga’ pengen balik lagi. Sepertinya dunia ini sudah milik sendiri. Astaghfirullah! Setan, Bang. Benar-benar hati ini isinya setan semua. Aku baru sadar kalau lagi ngobrol seperti ini, Bang. Kalau lagi ngelakuin, mana ingat dosa.” 

Dia menatap saya dengan mata yang berkaca-kaca. Trus dia ngomong, “...Bang, apakah Allah masih bisa menerima taubat saya. Rasanya semua pori-pori dan aliran darah di tubuh ini berisi bisikan setan. Hampir semua bisnis saya lakukan dengan ‘menghalalkan segala cara’. Lobby dengan pake wanita cantik, disuap dengan uang, di ajak bersenang-senang sambil judi, pokoknya semua cara kita lakukan. Kita “menghalalkan segala cara”. Inilah bisnis abad modern, Bang. Kita tidak akan mungkin survive kalau menghindari ini. Yah harus jadi pebisnis yang bahlul, karena lingkungan bisnis kita sudah bahlul semua. Investor bahlul, pinjam uang di bank harus bahlul, urus ke birokrasi harus bahlul, berurusan dengan polisi bahlul, hakim bahlul, jaksa bahlul, DPR terhormat bahlul, semuanya, Bang. Dunia ini memang sudah gila.”   

          Saya bilang, “Tidak semua mas, Insya Allah masih ada di antara mereka yang baik-baik. Kenapa Anda tidak berusaha menghindar?”

“Aduh, Bang! Kita akan menjadi manusia yang aneh. Bisnis kita tidak akan dipedulikan orang. Pergaulan kita juga engga’ bakalan diterima lingkungan bisnis. Kita akan menjadi pebisnis yang kampungan, pekerja profesional yang bodoh, eksekutif yang hidup di zaman batu. ‘gak’ bakalan, Bang. ‘Gak’ bakalan! Kita pasti menjadi ‘orang yang aneh’ sendiri....” 

Saya terdiam. Saya merenung. Demikian rusakkah dunia bisnis saat ini.  Betulkah kata kawan tadi, bahwa bisnis hanya mungkin survive apabila dikawal dengan lifestyle yang “bahlul”.  Benarkah orang yang menjalankan bisnis dengan tetap berpegang pada prinsip-prinsip syariah, memelihara etika, akan menjadi manusia yang aneh? 

Beberapa hari saya mencoba mencari jawaban. Saya coba telusuri kitab-kitab hadis. Saya cek ayat-ayat lewat Mu’jam Al-Qur’an (indeks Al-Qur’an). Begitu juga hadis-hadis lewat Mu’jam al-Hadis (indeks hadis). Saya kemudian ketemu sebuah hadis yang benar-benar tepat menjawab fenomena ini. Tengah malam saya setengah “teriak” di perpustakaan pribadi saya, “Yes!! Alhamdulillah.” 

Hadis ini bercerita tentang manusia-manusia aneh yang kelak akan muncul di suatu zaman, ketika dunia sudah benar-benar “bahlul”. Tapi Nabi bilang, “thuubaa lil ghurabaa” (berbahagialah ‘orang-orang yang aneh itu’). Rasulullah bersabda, “Islam mulai dengan aneh dan kembali lagi dengan aneh seperti permulaannya. Berbahagialah orang-orang yang aneh itu!”[4] Jadi, tentang mereka, Rasulullah pernah bersabda, “Berbahagialah ‘al-ghuraba’, orang-orang yang aneh ini.” Tanda-tanda mereka, seperti yang disebut oleh Rasulullah Saw., adalah:
          Pertama,mereka mencoba menimbulkan perbaikan ketika manusia sudah rusak.”[5] Dalam hadis yang lain disebutkan, “Mereka itu manusia-manusia yang saleh, yang jumlahnya sedikit, di tengah-tengah manusia durhaka.[6] Saat ini, dunia bisnis memerlukan sosok ‘al-ghuraba’ (pebisnis ‘yang aneh’), para pelaku bisnis yang tingkah lakunya asing, yang ingin memperbaiki lingkungan bisnis ketika “mami juzi” dan “sup”-nya (maksiat, minum, judi, zina, dan suap) sudah merupakan kebudayaan masyarakat. Kita memerlukan orang-orang yang beretika dan bermoral dalam menjalankan bisnis. Kita juga memerlukan orang yang adil, jujur, dan amanah dalam dunia bisnis. Para ahli fikih menyebut dengan satu istilah yang bagus sekali, “Dia suci dalam dirinya dan dia juga berusaha menyucikan orang lain.”

          Pribadinya bersih, dan dia berusaha membersihkan orang lain. Tingkah lakunya indah, dan dia berusaha mengindahkan tingkah laku orang lain. Di tengah-tengah orang yang sudah menganggap moralitas yang rusak sebagai ciri modern, orang yang mempertahankan moralitasnya merupakan orang yang dianggap aneh. Di tengah-tengah kebiasaan melanggar norma-norma yang berlaku, orang yang kelihatan bertahan kepada norma dengan seluruh keyakinannya akan dianggap aneh. Orang berlomba-lomba menumpuk kekayaan, korupsi, menghalalkan segala cara demi kelancaran bisnisnya, sementara ia menjauhkan diri dari semua itu karena ingin memelihara kebersihan dirinya, maka ia sering dianggap aneh oleh orang sekitarnya. Tetapi mari kita ingatkan kembali kata-kata Nabi, “Thuubaa lil ghurabaa” (Bahagia benar orang-orang yang aneh itu).

          Kedua, “Orang-orang yang bertambah (kebaikannya) ketika orang-orang lain berkurang (kebaikannya),”[7] sabda Rasulullah. Di dalam masyarakat, kita sering mencari orang yang kuat keyakinannya. Kadang-kadang kita meraba-raba, siapa orang yang patut dijadikan contoh dalam kehidupan ini. Ghuraba biasanya tampil sebagai manusia model, manusia yang bisa dicontoh karena kebersihan dan kesucian pribadinya, di tengah-tengah berkecamuknya kemunafikan, di tengah-tengah usaha untuk menjilat ke atas dan memeras ke bawah. 

          Kalau kita melihat  ada orang berjalan di atas rel yang benar, yang tetap menyampaikan bahwa apa yang benar itu benar, dan apa yang salah itu salah, tanpa memerdulikan risiko yang dihadapinya, rasanya ada semacam kekuatan di tengah-tengah kehausan bimbingan dalam diri kita. Masih ada bintang di tengah-tengah gelapnya malam. Orang itu biasanya mengisi apa yang hilang di tengah-tengah masyarakat. Ketika orang kehilangan identitas, mereka menunjukkan tuntunan yang jelas. Rasulullah bersabda bahwa al-ghuraba itu adalah, “Mereka yang menambah sesuatu yang tidak dimiliki kebanyakan manusia lain”.

          Ketiga, “Mereka menghidupkan kembali sunnahku setelah sunnah itu dimatikan oleh manusia,”[8] kata Rasulullah. Ketika para pelaku bisnis sudah banyak meninggalkan tuntunan agamanya, maka mereka mengajaknya kembali kepada al-Quran dan Sunnah. Ketika beberapa ajaran Rasulullah sudah ditinggalkan, mereka tampilkan kembali ajaran Rasulullah itu dalam keluarganya dan dalam prilaku mengelola bisnisnya sehari-hari.

          Dalam hubungan ini, saya ingin menyampaikan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi. Ada seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw, tentang ayat ini, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu, dan tidak akan memudharatkan kamu orang yang sesat apabila kamu berada dalam petunjuk.”[9] Sahabat ini bertanya karena sebagian orang menganggap bahwa tidak usah memerhatikan orang lain, perhatikan sajalah diri kita sendiri. Asal kita berada dalam petunjuk, tidak ada yang akan menyengsarakan kita.
 “Tidak,” jawab Rasulullah, “Tetapi, (mereka mendapatkan ganjaran) lima puluh orang dari kalian (yang ada sekarang ini)

          Maka Rasulullah Saw. menjawab, “Suruhlah orang berbuat ma’ruf, dan laranglah orang berbuat jahat sampai  nanti mengalami satu zaman ketika kebakhilan diperturutkan orang, ketika hawa nafsu diikuti orang, dan ketika dunia dilebihkan atas akhirat, dan setiap orang merasa kagum dengan pendapatnya sendiri. Maka peliharalah dirimu, jauhilah apa yang terbiasa dilakukan oleh orang-orang umum, sebab di belakang kamu itu akan ada zaman-zaman yang memerlukan kesabaran bagimu. Orang yang berpegang teguh kepada agamanya di zaman itu seperti orang yang memegang bara. Orang yang beramal pada zaman itu akan di beri ganjaran lima puluh orang yang beramal seperti dia, ’Aku bertanya, ”Hai Rasulullah, apakah mereka mempunyai ganjaran lima puluh kali ganjaran orang pada zaman mereka?”. ”Tidak”, jawab Rasulullah, ”mereka memperoleh ganjaran lima puluh kali ganjaran kamu yang ada sekarang ini”[10]

          Di sini Rasulullah menunjukkan bahwa akan datang satu zaman ketika orang yang memegang moralitas dan prinsip-prinsip agama dianggap aneh, dianggap ghuraba, sehingga lantaran keanehannya dia seperti menggenggam bara di tangannya. Bila dilepaskan, bara itu padam; bila dipegang, bara itu menyengat dirinya. Orang yang mempertahankan keyakinannya, orang yang ingin memelihara kebersihan sikap dan kepribadiannya, orang yang ingin menjalankan bisnis dengan moral dan etika yang sesuai syariah, dia hidup seperti memegang bara, dia selalu dalam keadaan panas. Karena itu pantaslah kalau kata Rasulullah, amal orang-orang seperti itu akan dilipatgandakan ganjarannya lima puluh kali ganjaran sahabat-sahabat Rasulullah Saw. Semoga Anda, para pebisnis, para profesional, para marketer, termasuk kelompok “orang-orang yang aneh” seperti ini. Thuubaa lil ghuraba (berbahagialah orang-orang  yang aneh itu).[11]

Sumber: Dikutip dari buku Muhammad Syakir Sula, “Marketing Bahlul, diterbitkan oleh Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2008. Hal 2-12.

(Download SYARIAH MARKETING)


[1] ”Bahlul”, bahasa gaul orang arab, artinya bandel, nakal, biasanya melekat di situ sifat-sifat yang negatif.
[2] PPRS (Perhimpunan Penghuni Rumah Susun), semacam ketua RW-lah kalau di perumahan. Bedanya, PPRS bertanggung jawab atas seluruh pengelolaan apartemen secara finansial.
[3] Maksudnya ”agency model” yang biasa menyediakan perempuan-perempuan “bispak” (bisa dipake). Ada beberapa agency model yang menyediakan cewek-cewek seperti ini, termasuk untuk kepentingan party. Tapi beberapa juga profesional sebagai agency model, bahkan ada yang membimbingnya ke arah yang spiritual seperti milik mantan model terkenal, Ratih Sang.
[4] Diriwayatkan oleh al-Thabrani dalam ketiga kitabnya (al-Mu’jam al-Shaghir, al-Mu’jam al-Awsath, dan al-Mu’jam al-Kabir).
[5] Ibid.
[6] Hadis ini terdapat dalam al-Musnad dan dinyatakan sahih oleh Syaikh Syakir. Demikian juga dikemukakan oleh Imam Al-Haitsami dalam kitabnya (Majma’ al-Zawaid, 7:278).
[7] Hadis Riwayat Imam Ahmad dalam Musnad-nya.
[8] Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam kitab al-Zuhd.
[9] Firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Maidah, ayat 105
[10] Hadis riwayat Abu Daud dalam Sunannya pada  “Kitab al-Malahim” hadis nomor 4341; Tirmidzi dalam “Kitab al-Tafsir”, hadis nomor 3060.
[11] Kang Jalal (Jalaluddin Rahmat) menjelaskan hadis ini dengan sangat indah, dalam bukunya  ”Khotbah-khotbah di Amerika, Penerbit CV Rosda, Bandung, 1989.

PRINSIP – PRINSIP BISNIS DALAM ISLAM

PRINSIP – PRINSIP BISNIS DALAM ISLAM


Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar

“BUTA HATI, LEBIH BERBAHAYA, BUTA MATA
TIDAK NAMPAK DUNIA, BUTA HATI TIDAK NAMPAK
KEBENARAN, BUTA HATI DITIPU NAFSU
DAN SYAITAN.”

Saudara – saudaraku, andaikata tujuan sudah ditetapkan sepelan apapun kita bergerak insyaallah merupakan suatu kemajuan. Tapi bagi orang yang tujuannya tidak tetap, segigih apapun bergerak bisa jadi menuju kehancuran.

Oleh karena itu kalau kita berbicara bisnis itu tergantung tujuannya apa. Ada yang tujuannya hanya uang, ada yang tujuannya kepuasan. Tapi sebagai muslim paling tidak ada tiga tujuan yang harus kita pahami sebagai manusia yang diciptakan Allah.

Pertama, kita diciptakan oleh Allah untuk menjadikan segala aktifitas kita sebagai ibadah. Itu artinya bisnis bagi kita adalah ibadah, bukan semata – mata mencari uang.

Kedua, tugas hidup kita menjadi khalifah. Kita diberi kesempatan hidup di dunia satu kali oleh karena itu kita harus berkarya seoptimal mungkin, sehingga saat kematian kita kelak adalah puncak kita berkarya dalam hidup ini yang bermanfaat bagi peradaban manusia, mensejahterakan diri dan mensejahterakan orang lain.

Ketiga, tugas kita dalam bahasa agama disebut dakwah. Artinya apapun aktifitas yang kita lakukan harus menjadi pencerminan pribadi pribadi yang menjadi teladan dalam kebenaran. ini penting, ibadah, khalifah dan dakwah.

Saudaraku, ada orang yang sibuk dengan membanting tulang demi mencari sesuap nasi. Ini rugi, sudah tulang yang dibanting hanya sesuap yang dicari.

Imam Ali pernah mengatakan , barang siapa yang memang kesibukannya hanya untuk mencari isi perut, maaf derajatnya tidak jauh beda dengan apa yang keluar dari perut.

prinsip-prinsip bisnis dalam Islam
Kalau hanya mencari makan apa bedanya dengan kambing?
Kalau hanya sekedar mencari uang, garong juga mencari uang.
Maka kita harus tahu bahwa kita tidak disuruh mencari uang.
Tetapi kita disuruh untuk menjemput rezeki karena setiap makhluk sudah disiapkan rezekinya masing–masing.

Ada perbedaan mendasar antara “mencari” dan “menjemput”. Kalau “mencari itu ada kemungkinan tidak mendapatkan apa yang dicari. Tapi kalau “menjemput”,pasti ada. Maka itu sebabnya saya dalam bisnis tidak cemas lagi dengan rezeki, dengan gaji karyawan, sebanyak apapun karyawan termasuk yang cacat.

Kenapa? Karena setiap orang sudah ada rezekinya. Saya kasih contoh, mencari istri itu belum tentu dia punya istri. tetapi menjemput istri pasti sudah punya istri kecuali mancari yang lain. Ini penting. “Waman yatawakkal ‘ala Allah fahuwa hasbuh,” Q.S. At Thalaq (65) : 3, artinya “Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkannya.”

Maaf kalau saya mengambil sudut pandang Islam, karena itu yang saya pahami. Seorang Muslim, dikatakan professional kalau dia memenuhi dua hal. 

Pertama, didalam mencari, dia sangat menjaga nilai – nilai kejujuran, tepat janji, etos kerja, sehingga kalau dia mendapatkan uang maka dirinya lebih bernilai dari sebanyak apapun uang yang didapatkan. Karena dia mencari dalam rangka untuk membangun nilai – nilai.

Kedua, dalam mencari nafkah atau “menjemput rezekinya” dia sangat menjaga sehingga terbangun nama baiknya. Dengan demikian, dia tidak pernah takut kehilangan apapun. 

Mau pensiun, mati uangnya habis, tidak ada masalah. Karena bukan itu yang dia cari, tapi nilai – nilailah yang dia cari. Kalau uangnya banyak, dia lebih kaya dari uangnya. Tapi maaf, kalau koruptor uangnya banyak, rumah berharga, mobil berharga, tanah berharga, tapi yang tidak berharga adalah dirinya.

Maka tidak heran kalau koruptor sering minta – minta, segalanya dicolok. Maaf, jangan ada yang merasa tersinggung, kecuali koruptor sendiri. Bayangkan ada orang yang mencari, dia telah mendapat dunianya, tapi dia tidak mendapatkan dirinya. Makanya dia takut sekali kehilangan jabatannya, karena itu yang dia anggap sukses.

Kenapa orang takut turun dari jabatannya?
Karena itu topeng dia. Jadi kalau orang bersembunyi di balik topeng, takut diambil topengnya. Tapi kalau orang membangun dirinya, dia tidak pernah takut kehilangan apapun.

Maka orang – orang yang pecinta dunia takut melihat pesaing. Padahal pesaing adalah saudara kita juga. Tanpa pesaing hidup kita tidak bermutu. Persaingan itu karunia Allah agar bisa memompa kemampuan kita secara optimal.

Saudara mau balap karung sendirian? Tidak bermutu walaupun meraih juara umum. Begitu juga apabila balap karung dengan anak TK, walau juara dunia tetapi tetap tidak ada harga karena lawannya adalah anak TK. Tapi balap karung dengan petarung tangguh, walau kita menjadi juara kelima, tidak ada masalah. Tapi kita sudah memompa kemampuan kita secara optimal.

Pesaing tidak akan mengurangi rezeki kita, kalau kita bertarung dengan keyakinan bahwa Allah yang membagikan rezeki. Mempunyai pesaing itu nikmat. Bukankah tidak akan bisa menjadi pahlawan kalau tidak ada penjahatnya? Yang menjadi masalah siapa yang menjadi penjahat? Itu saja. Mencari rezeki, sekaligus menjaga nilai sehingga nama terbangun. kalau hal ini dilakukan harga diri terbangun. Kalau hal ini dilakukan walau sudah pensiun, tua atau mendapat mutasi, orang tersebut tidak pernah berkurang kemuliaannya karena telah melekat pada dirinya, kekayaan pribadinya.

Kalau sudah mendapat rezeki, seorang professional yang baik dan berhati nurani akan mendistribusikan rezekinya. Maka disebutkan oleh Nabi Muhammad, “Khairunnas anfa’uhum linnas,” Hadits Riwayat Bukhari. Artinya, “Sebaik –baik manusia adalah manusia yang paling banyak manfaatnya.”

Jadi kita bekerja keras, menjemput rezeki kita, nama kita terbangun, rezeki kita dapatkan, lalu kita distribusikan. Makin banyak kekayaan, makin banyak orang lapar tersantuni, makin banyak orang bodoh bisa belajar, makin banyak orang yang tidak berpakain bisa memiliki baju, makin banyak orang yang tidak mempunyai rumah bisa berteduh. dan ini akan membuat kita semakin bersemangat dalam bekerja.

Dan luar biasa, kita bisa menikmati bagaimana kita mendistribusikan rezeki kita ini. Sehingga kalau kita mati nanti, kita sudah puas. Nama insyaallah baik, orang banyak manfaatnya. Kita tunggu saja saat kematian seperti ini. mau apa lagi, dunia tidak pernah bisa kita bawa. Siapa orang kaya di dunia ini, bawa apa dia
mati? Tidak ada yang dibawa.

Kadang kita salah, melihat orang kaya itu yang banyak tabungannya. Padahal dia hanya penunggu saja. Kalau menurut saya, orang yang kaya adalah orang yang banyak mendistribusikan rezekinya.

Jadi maaf, menurut saya, para koruptor itu benar – benar orang yang miskin.Tidak ada apa – apanya, walaupun jasnya bagus, dasinya bagus. Padahal kalau mau jujur, dia ke atas menjilat, ke bawah menginjak, ke samping menyikut. Sudah punya istri berzina, segala diangkut dari kantor ke rumah. Sampai – sampai
jepitan buku pun diangkut. Ini benar – benar miskin.

Makanya nanti ke depan kalau kita memilih pejabat itu harus orang yang kaya. Bukan kaya dengan uang, tapi kaya batinnya. Tidak suka minta – minta. Orang yang minta – minta itu orang miskin. Misalnya minta proyek. Salah kita memilih orang yang miskin batinnya. Memiliki jabatan tetapi kerjanya minta – minta.

Saudara – saudaraku, kalau kita sudah tahu bahwa rezeki datangnya dari Allah, untuk apa kita berbuat licik? Yang menyuruh jujur Allah, yang membagikan rezeki juga Allah. Maaf mungkin kita pernah dengar perumpamaan ini. saya pernah mendapat nasehat dari anak saya. “Pak, kita mah malu kalau hidup mengeluh. Lihat nyamuk, untuk mencari sesuap makan saja dia harus bertarung dengan nyawanya.”

Nyamuk itu mencari makan saja sudah terancam. Dan sudah berapa banyak nyamuk tewas di tangan kita, ketika dia mencari nafkah. Anak saya bilang, “Lihat ketika nyamuk itu makan, Pak. Makan saja terancam.” Berapa banyak nyamuk yang terbunuh ketika makan, juga ditangan kita? Sudah selesai makan tangki sudah penuh, mau terbang rasanya berat. malu jadi manusia kalau kita terus – menerus mengeluh. Lihat nyamuk itu dari awal sampai akhir. mencari sesuap darah saja nyawanya terancam.

Makanya orang – orang yang licik, mereka betul – betul menghinakan dirinya sendiri. Orang yang bekerja cerdas bukan orang yang menjadi untung dengan banyak liang, tapi sekali dayung dua, tiga empat pulau terlampaui. Ibarat sambil menyelam minum air, memungut mutiara, ketemu dengan puteri duyung. Orang – orang yang korupsi itu benar – benar, maaf, bodoh. Saya tidak menyebut dungu ya, tapi apa bedanya?

Saya ini merasa gemas. Bayangkan dia mengambil tapi dan menghancurkan dirinya dan nama baiknya. Dia memberi makan keluarga dengan harta haram, dimana kecerdasannya? Bayangkan, nama itu tidak terbeli oleh harta. Mati dalam aib, orang tua malu, anak tertekan, makanan yang dimakan pun haram. padahal harta tidak dibawa kalau mati.

Saya pernah mendengar ada koruptor yang pusing. Menyimpan uang di bank, karena takut ketahuan, maka dia memakai nama orang lain. Punya mobil bagus takut ketahuan, akhirnya disimpan di kampung. Punya rumah, sertifikat dia atas namakan orang lain. Jadi dia punya apa? Punya dosa. Apalagi sekarang ada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Itu semakin membuat dia tertekan. sudah tidak bisa menikmati tapi tetap saja korupsi. Na’udzubillahi min dzalik.

Mungkin ini yang disebut buta hati. Negara kita menjadi seperti ini karena pebisnisnya bukan professional. Kalau professional pasti bagus. Jadi yang professional itu selalu menggunakan basis moral. karena nilai keuntungan tidak dilihat dari jumlah uang.

Bagi kami dalam bisnis, uang itu nomor sekian.
Pertama, yang namanya untung itu kalau bisnis ini menjadi amal. karena kita semua pasti mati dan yang dibawa ke akhirat itu bukan uangnya tapi amalnya. Oleh karena itu sejak mulai dari niat harus benar kalau niat sudah salah, cara juga salah, tindakan kita tidak akan menjadi amal walaupun mungkin menghasilkan uang. Namun untuk apa itu semua, karena uang tidak bisa kita bawa mati.

Kedua, yang disebut untung adalah, kalau dalam bisnis, nama kita menjadi semakin lebih baik. Nabi Muhammad itu benar – benar menjadi orang yang sangat credible, Al Amien seorang yang sangat – sangat terpercaya. Orang tidak ragu saja kepada perkatannya. Makanya bagi kami bisnis itu kecil, tapi nama baik itu
yang sangat penting.

Ketiga, yang namanya untung itu ketika dalam bisnis, kita bisa manambah ilmu, karena tanpa penambahan ilmu, pengalaman dan wawasan, keuntungan yang didapat bisa menjadi bumerang. Segalanya berubah dalam hidup ini, bagaimana mungkin menyikapinya tanpa kemampuan yang berubah. Saat ini untung, tapi besok lusa bisa jadi keuntungan ini akan menjadi sumber kerugian. Makanya keuntungan berupa uang yang tidak meng - upgrade diri kita, itu sebetulnya tidak untung.

Yang keempat, keuntungan adalah ketika dengan bisnis, menambah silaturahmi, menambah saudara, karena persaudaraan itu mahal. Buat apa mempunyai uang banyak kalau musuh juga bertambah. sekali digarong, atau dibui, harta akan habis dan percuma.

Jadi orientasi dalam bisnis itu adalah bagaimana semakin menambah saudara. Tidak begitu untung barangkali tidak apa – apa, tetapi saudara bertambah. Kalau orang sudah sayang ke kita, dia akan menajdi tim marketing kita.

Dan yang kelima, yang disebut keuntungan bagi bisnis yang bernuansa religi adalah bagaimana dengan bisnis makin banyak orang yang mendapatkan keuntungan. Karena setiap orang yang beruntung, yang menjadi bagian dari bisnis kita, itu akan menjadikan kebagian diri kita pula.

Konsep – konsep tersebut di atas tidak hanya ideal, tapi realistis karena kita sudah menjalani dan terbukti untung besar, kami tidak tertarik pada uang haram, untuk apa? Logikanya sederhana, Allah yang menyuruh jujur, Allah yang memberi rezeki, untuk apa harus tidak jujur?
 
Kami membangun perusahaan dengan konsep ini. Beberapa waktu yang lalu kami mencoba untuk membangun perumahan, hanya dalam tempo satu bulan sudah laku 495 rumah. Bahkan belum diumumkan sudah habis. Ya mudah – mudahan Allah menerima.

Saya sendiri pribadi mengelola 19 perusahaan dengan konsep bisnis di atas. Bisnis di perusahaan tersebut terus saja beranak pinak. Jadi konsep yang sudah saya kemukakan di atas bukan saja ideal, tapi konsep yang realistis dan benar – benar menguntungkan.

Logiknya sederhana. Dimana – mana orang akan selalu mencari rekanan yang jujur dan bisa dipercaya. Karena berusaha untuk jujur, tentu kitalah yang mereka cari. Para investor yang punya uang mencari orang yang bisa mengelola uangnya dengan jujur. Para pembeli ingin pedagang yang jujur. Kita tinggal tampil saja,
karena mungkin menjadi barang langka.

Ini kisah nyata. Ada sekelompok warga punya tanah menawarkan kepada kami agar tanahnya dibeli. Tapi dari mana uangnya. Kemudian datang investor pada kami. Mereka mencari pengelola yang amanah. Kemudian masyarakat juga ingin membeli dari pengelola yang jujur. Akhirnya tanpa modal, tanah terbeli dan
setelah jadi, perumahan segera terjual habis.
Jadi yang mengherankan, kenapa masih ada orang yang tidak jujur?

Contoh lain, beberapa waktu yang lalu kita menyelenggarakan pelatihan. Ada peserta yang ingin me – mark up anggaran pelatihan tersebut. Kita tegas – tegas menolak. silakan mencari tempat pelatihan lain, kita tidak kurang peserta.

Antriannya bertahun – tahun. Kita juga punya hotel yang ternyata bookingnya sampai 3 – 4 bulan.
Dari contoh – contoh tersebut, menjadi aneh kenapa harus tidak jujur?
Tidak jujur itu karena kurang iman.
Kalau sudah yakin rezeki dari Allah, kenapa kita tidak jujur.
Nabi Muhammad telah memberikan teladan dalam bisnis semasa hidupnya dengan julukan Al Amien. Al Amien itu komponennya tiga :

Pertama jujur terpercaya, tidak pernah bohong sekecil apapun.
Kedua, Sigma kepuasan, jadi ketemu puas bicara puas, terus menerus memberikan kepuasan, semakin banyak titik kepuasan itu orang tersebut semakin credible
Ketiga, inovatif dan solutif. Kalau orang terus meng – upgrade dirinya dan terus menerus berinovasi, serta menjadi solusi, dia akan menjadi credible.

Orang yang tidak jujur, tidak memuaskan, tidak punya inovasi dia akan terkubur.

Berbisnis Dengan Hati

KEJUJURAN SEBAGAI KEUNGGULAN BERSAING

Oleh : Hermawan Kartajaya

Saya memikirkan compassionate marketing sejak tiga tahunan yang lalu saat skandal keuangan merebak di Amerika yang memuncak dengan tumbangnya perusahaan – perusahaan raksasa seperti Enron, Worldcom, atau Global Crossing.

Kasus manipulasi akuntansi terbesar dalam sejarah bisnis Amerika tersebut menunjukkan keadaan kita betapa semakin tingginya kompleksitas bisnis, semakin canggihnya tool – tool manajemen, dan semakain majunya perangkat regulasi, ternyata bukannya menjadikan praktek bisnis kita menjadi semakin dewasa dan beradab. Justru sebaliknya, ia semakin kebablasan tanpa etika, tanpa nilai – nilai moral, tanpa pegangan.

Saya berpikir apakah ini tanda akan datangnya akhir jaman. Bisnis telah kian terpuruk oleh tangan – tangan orang yang tidak punya etika dan moral. Bisnis tidak lagi dijalankan dengan semangat kejujuran dan keadilan. Apa yang kita lihat dari skandal tersebut adalah betapa para pebisnis semakin membabi – buta menghalalkan cara apapun untuk mengeruk keuntungan pribadi tanpa peduli hal itu merugikan pihak lain. Para pebisnis semakin kehilangan nuraninya. 

Kejadian di Amerika tersebut sesungguhnya bukanlah konsern utama saya. konsern dan keprihatinan saya justru pada praktek bisnis yang sudah berjalan bertahun – tahun di negeri ini. Kalau mau jujur, sesungguhnya apa yang terjadi di Amerika itu sudah menjadi keseharian kita selama ini. Secara kebetulan berita skandal itu di blow up besar – besaran media massa di seluruh dunia sehingga kita tahu dan tersentak karenanya.

Tapi bagi kita yang di Indonesia skandal tersebut adalah biasa saja. Karena di negeri ini praktek bisnis yang sepuluh kali lipat lebih kotor dari praktek bisnis yang dijalankan para eksekutif Enron itu begitu banyak dan telah membudaya selama tiga puluh tahun lebih.

Kongkalikong politisi – pengusaha!
Bisnis “nginjak kaki”!
Praktek suap dan mark – up!
Sogok – menyogok pejabat untuk memenangkan proyek!
Mendirikan bank untuk mengeruk duit masyarakat untuk mendanai bisnis grup!
Mengelabui bank untuk menguras koceknya!
Kolusi pejabat untuk mendapatkan monopoli!
Dan masih banyak lagi.
Kalau mau lebih detail lagi bacalah artikel, Saya Bermimpi Menjadi Konglomerat – nya Pak Kwik Kian Gie.

Semula saya berpikir bahwa dengan bergantinya pemerintahan Orde Baru politik di negeri ini akan lebih jujur dan adil. Sehingga kalau politiknya oke diharapkan praktek bisnisnya juga oke. Tapi seperti kita tahu semua, wajah politik pasca Orde Baru bukannya lebih baik malah lebih compang – camping.

Kalau dulu korupsi bisa secara rapi “dipusatkan” di pusat – pusat pemerintahan, maka kini korupsi tersebut semakin meluas dan merajalela di tingkat kabupaten bahkan kecamatan. Kalau dulu kongkalikong pengusaha – pejabat hanya terbatas di Jakarta maka kini hal yang sama dilakukan di secara massif di tingkat kabupaten – kecamatan. Tak heran jika negeri kita ini tak bergeming posisinya sebagai negara terkorup di dunia. Praktek bisnis kotor yang selama puluhan tahun melingkupi keseharian kita semakin menyadarkan saya bahwa kejujuran dan etika bisnis kini sudah menjadi suatu yang langka di negeri ini.

Di negeri yang compang – camping etika bisnisnya, kejujuran merupakan “resources” yang semakin langka bagi perusahaan. Dan tak bisa di-leverage menjadi komponen penting keunggulan bersaing perusahaan. Karena godaan untuk berbisnis secara tidak jujur itu demikian kuat di negeri ini, maka tak banyak
perusahaan yang mampu melakukannya.

Apa artinya ini? Artinya adalah bahwa kejujuran bisa menjadi sumber keunggulan bersaing yang sangat kokoh. Kenapa kokoh? Karena tak banyak perusahaan yang mampu melakukannya dan kemampuan tersebut sulit ditiru pesaing. Dalam teori manajemen, kalau sebuah perusahaan mampu melakukan sesuatu yang sulit ditiru oleh pesaing maka ia akan memiliki daya saing yang kuat dan sustainable dalam
jangka panjang.

Saya melihat praktek bisnis dan marketing bergeser dan mengalami transformasi dari level intelektual menuju ke emosional, dan akhirnya ke spiritual. Level intelektual ditandai dengan penggunaan tool – tool marketing ampuh seperti marketing mix, branding, positioning, dan sebagainya.

Lalu sejak sekitar sepuluh tahunan yang lalu konsep emotional marketing muncul dan kini makin mendominasi praktek pemasaran yang dijalankan oleh para pelaku bisnis. Saat ini varian dari emotional marketing ini sudah berkembang demikian luas dan telah menjadi buzzword marketing yang popular. Sebut saja beberapa di antaranya seperti : customer relationship management, experiential marketing, emotional branding, dan sebagainya.

Tapi kini dan di masa datang, apalagi setelah pecahnya skandal keuangan yang saya sebut di depan, saya melihat eranya akan bergeser kearah spiritual. Sehebat apapun strategi bisnis yang Anda punyai, secanggih apapun tool marketing yang Anda jalankan, semuanya tak akan ada gunanya kalau tidak dilandasi spiritualitas yang kokoh, Mau bukti? Buktinya Enron, raksasa energi yang praktis habis dalam semalam karena tidak jujur kepada stakeholders-nya. 

Bisnis, berbisnis dengan hati
Apapun bisnis Anda, rohnya akan terletak pada kejujuran dan etika. Saya sangat terkesan dengan logika yang dipakai Aa Gym mengenai berbisnis yang jujur. Berikut ini ada perkataan Aa Gym, “Logikanya sederhana, Allah yang menyuruh jujur, Allah yang memberi rezeki, untuk apa harus tidak jujur?”

Bisa dikatakan Aa Gym sudah seperti Raja Midas, apapun yang disentuhnya menjadi emas. Maksudnya, apapun bisnis yang dimasukinya selalu membawa kesuksesan. Kini beliau sudah mengelola 19 perusahaan dan semuanya merupakan bisnis yang menguntungkan.

Semua kesuksesan tersebut kuncinya menurut Aa Gym cuma satu : Jujur. Dalam tulisan ini berisi uraian Saya dan Aa Gym mengenai bisnis yang dilandasi oleh kejujuran, etika, dan profesionalitas. Isinya sendiri merupakan rangkuman dari butir – butir pemikiran Saya dan Aa Gym mengenai berbisnis yang jujur dan beretika yang kami kemukakan dalam sebuah acara talk show dalam rangka pengajian bulan Ramadhan tahun 2003 lalu.
Dalam tulisan ini Aa gym menguraikan prinsip – prinsip dasar bisnis yang berlandaskan kejujuran dan Islam, tentu saja dalam konteks Manajemen Qolbu. sementara saya menguraikan sebuah konsep terbaru yang sudah sejak setahun ini saya gagas bersama rekan – rekan di MarkPlus&Co. yaitu apa yang saya sebut, The 10 Credos of Compassionate Marketing.

Akhirnya saya berharap bahwa di negeri tercinta ini akan semakin banyak perushaan yang mampu tumbuh, berkembang, dan memiliki daya saing kuat karena prinsip kejujuran dan etika yang dipegang teguh. Betapa indah kalau bisnis itu dijalankan dengan nurani.

diambil dari pdf  Berbisnis Dengan Hati; Aa' Gym Bagian 1

PENCARIAN TUHAN

TUHAN


Ini adalah kisah seseorang yang mencari Tuhan. Dia adalah seorang tukang cukur. Mudah-mudahan jadi inspirasi buat kita

Si tukang cukur mencari tuhan, ini adalah kisah singkat antara tukang cukur dan konsumennya. Mari kita simak cerita berikut ini. Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya. Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat.

PENCARIAN TUHAN


Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan.

Si tukang cukur bilang,”Saya tidak percaya kalau Tuhan itu ada”.“Kenapa kamu berkata begitu ?” tanya si konsumen.

“Begini, coba kamu perhatikan di depan sana, di jalanan…. untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada”.“Katakan kepadaku, jika Tuhan itu ada. Adakah yang sakit? Adakah anak-anak terlantar? Adakah yang hidupnya susah?” .

“Jika Tuhan itu ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan”.“Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi”.

Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon apa yang dikatakan si tukang cukur tadi, karena dia tidak ingin terlibat adu pendapat. Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur.

Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar, kotor dan brewok, tidak pernah dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.

Si konsumen balik ke tempat tukang cukur tadi dan berkata :“Kamu tahu, sebenarnya di dunia ini tidak ada tukang cukur..!”

Si tukang cukur tidak terima, dia bertanya : ”Kamu kok bisa bilang begitu?”.“Saya tukang cukur dan saya ada di sini. Dan barusan saya mencukurmu!”

“Tidak!” elak si konsumen.“Tukang cukur itu tidak ada! Sebab jika tukang cukur itu ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana“, si konsumen menambahkan.

“Ah tidak, tapi tukang cukur itu tetap ada!”, sanggah si tukang cukur.“Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang kepada saya untuk mencukur dan merapikan rambutnya?”, jawab si tukang cukur membela diri.

“Cocok, saya setuju..!” kata si konsumen.“Itulah point utamanya!.. Sama dengan Tuhan. “Maksud kamu bagaimana?”, tanya si tukang cukur tidak mengerti.

Sebenarnya Tuhan itu ada ! Tapi apa yang terjadi sekarang ini.? Mengapa orang-orang Tidak mau datang kepada-Nya, dan tidak mau mencari-nya..?

Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini.”Si tukang cukur terbengong !!!! Dalam hati dia berkata : “Benar juga apa kata dia..kenapa aku tidak mau datang kepada Tuhanku, untuk beribadah dan berdoa, memohon agar dihindarkan dari segala kesusahan dalam hidup ini..?”

Semoga kita selalu di beri kebaikan, amien...

ITJ