Informasi Islam

Informasi Islam, ekonomi Islam

Islamic Economic

Islamic Bussines

Showing posts with label Islamic Economic. Show all posts
Showing posts with label Islamic Economic. Show all posts

Hikmah Lelaki Tidak Boleh Memakai Emas

Hikmah Lelaki Tidak Boleh Memakai Emas


Bismillah..

Ada sebuah hadits dimana Rasulullah SAW bersabda:
”Dihalalkan (mengenakan) sutera dan emas bagi kaum wanita dari umatku dan diharamkan bagi kaum laki-lakinya.” (HR. Ahmad)
.
Islam melarang laki-laki memakai emas. Mengapa? Ternyata, selain ada hikmah ekonomi dan sosial seperti dijelaskan Syaikh Dr Yusuf Al Qardhawi dlm bukunya "Halal Haram dlm Islam", terungkap pula hikmah medis di balik haramnya laki-laki memakai emas.

Berikut hikmah medis tersebut seperti dikutip dari Nabawia.com:

- "Atom pada emas mampu menembus ke dlm kulit melalui pori-pori dan masuk ke dlm darah manusia. Jika
Hikmah Lelaki Tidak Boleh Memakai Emas, emas, sutra
seorang pria mengenakan emas dlm jumlah tertentu dan dlm jangka waktu yg lama, maka dampak yg ditimbulkan yaitu di dlm darah dan urinenya akan mengandung atom emas dlm kadar yg melebihi batas (dikenal dgn sebutan migrasi emas). Apabila ini terjadi dam jangka waktu yg lama, maka atom dalam darah ini akan sampai ke otak dan memicu penyakit alzheimer." -

Alzheimer adalah suatu penyakit yg membuat penderitanya kehilangan semua kemampuan mental dan fisik serta menyebabkan kembali seperti anak kecil. Alzheimer bukan penuaan normal, tetapi merupakan penuaan paksaan atau terpaksa.

Lalu, mengapa Islam memperbolehkan wanita utk mengenakan emas? Di antara hikmahnya ditinjau dari sisi medis ini adalah, wanita tidak menderita masalah ini karena setiap bulan, partikel berbahaya tersebut keluar dari tubuh wanita melalui menstruasi. 

Subhanallah, itulah diantara hikmah mengapa agama Islam melarang laki-laki memakai emas. Nabi Muhammad SAW menyampaikan larangan itu 1400 tahun yg lalu, padahal beliau tidak pernah belajar ilmu kimia.

Lantas Bagaimana Hukum Pemanfaatan Emas?

Imam Nawawi rahimahullah berkata:

- "Tidaklah haram baginya. Ia boleh memanfaatkannya utk dijual dan tindakan yg lain. Ia bisa saja menyedekahkan emas tadi kpd yg membutuhkan karena Nabi SAW tidaklah melarang seluruh pemanfaatan emas. Yang beliau larang adalah emas tersebut dikenakan. Namun utk pemanfaatan lainnya, dibolehkan,” - (Syarh Shahih Muslim, 14: 56)
Wallahu 'alam.
.
Semoga Bermanfaat
@mozaik_islam

Uang Kertas

Kisah Sukus dan Tukus

Syahdan di suatu samudera terdapat dua pulau yang bertetangga. Sebut saja Pulau Aya dan Pulau Baya. Di pulau Aya, suku Sukus hidup sejahtera. Mereka dikarunia daratan yang subur. Mereka hidup bercocok tanam. Pertanian mereka menghasilkan aneka sayuran dan buah-buahan tropis. lkan dan sumberdaya laut sangat melimpah. Tidak hanya itu, Pulau Aya terkenal dengan panoramanya yang indah. Gemericik air terjun bisa ditemui di banyak tempat. Sungai-sungainya yangjemihjuga menjadi daya tarik tersendiri. Tak heran bila pulau ini menjadi tempat tujuan para pelancong dan wisatawan lokal maupun luar pulau.

Masyarakat Sukus dikenal memiliki peradaban yang cukup maju. Mereka beruntung, pulau yang mereka tempati menghasilkan emas. Dan mereka bekerja keras untuk mendapatkan logam mulia ini. Hampir semua anggota suku memiliki emas dan menyimpannya sebagai simbol harta kekayaan.

Selain sebagai simbol peradaban, emas juga berfungsi sebagai alat transaksi. Sejak Saka, sang ketua suku, mencetak koin emas, maka semua transaksi jual beli yang semula dilakukan dengan barter beralih dan diukur dengan emas. Berdagang pun menjadi lebih mudah dan simpel.

Meskipun begitu, mereka tidak mendewa-dewakan emas sebagai satu-satunya pencapaian. Kehidupan sosial mereka tampak lebih penting. Ini bisa dilihat-dari cara mereka yang saling tolongmenolong. (Kami di dunia setan sangat membenci perilaku ini). Ketika anggota suku perlu membangun rumah baru karena rumah lama tersapu ombak. yang berarti menguras emas simpanannya. anggota-anggota suku lainnya dengan suka rela meminjamkan emas miliknya. Hebatnya. tanpa charge atau tambahan apapun. "Dasar manusia bodoh, sudah meminjamkan uang kok tidak mau minta kompensasi." begitu gerutuan kami.

Kami semakin pusing karena tidak terbatas itu saja, mereka juga bergotong royong satu sama lain dengan ikhlas. Padahal kami ingin, paling tidak, mereka lakukan ini dengan riya. Pantaslah bila kehidupan mereka meskipun sederhana tapi diliputi semangat kesetiakawanan yang tinggi. Anggota suku terbiasa bahu-membahu mengatasi persoalan bersama. Boleh dikata, mereka hidup rukun dan damai.

Sementara pulau tetangganya. Pulau Baya. didiami suku Tukus. Kebanyakan penduduknya bekerja sebagai petani. Mengolah lahan di sawah atau ladang dan memelihara lemak. Sebagian lagi yang memiliki ketrampilan khusus, memproduksi kerajinan tangan.

Dibandingkan suku Sukus. mereka lebih sederhana. Mereka masih menggunakan sistem barter dalam transaksi keseharian. Yang menghasilkan padi menukar berasnya dengan kerajinan tangan atau sebaliknya. Boleh dibilang secara ekonomi, kesejahteraan mereka di bawah suku Sukus. Mereka memang kebanyakan hanya pekerja kasar. Mereka tidak memiliki pusat kota yang indah dan maju seperti halnya Sukus. Sesekali mereka menjual hasil bumi dan handicraft mereka ke suku Sukus. Mereka, apalagi para wanitanya, sangat senang menerima koin emas sebagai jasa dari padi atau kerajinan tangan yang mereka hasilkan. Meskipun berbeda dalam hal kesejahteraan. ada satu persamaan menonjol di antara Sukus dan Tukus. Mereka sama sama hidup damai, rukun dan saling tolong-menolong. Mereka sering bersilaturahmi dan menjalankan ritual agamanya dengan tenang.

Sampai akhirnya datang tamu istimewa ke suku Sukus. Berpenampilan perlente. dua orang asing turun dari kapal yang berlabuh di pulau Aya. Gaga dan Sago, begitu mereka mengenalkan diri saat dijamu oleh Saka, pimpinan suku Sukus. Kedua tamu ini disambut dengan suka cita. Saka dan para pembantunya sangat terkesan dengan kisah Gaga dan Sago yang ruengaku sudah melanglang buana. Sebagai bukti, kedua orang asing itu lalu memamerkan koin emas asing yang mereka kumpulkan dari berbagai tempat perlawatan.

Satu hal lagi -dan ini yang paling menarik bagi Saka dan punggawanya- adalah kertas yang dinyatakan sebagai uang. Gaga dan Sago lalu memperkenalkan bagaimana uang kertas jauh lebih efisien ketimbang emas yang sehari-hari mereka pakai. Itulah kenapa uang kertas ini sudah dipakai di negara-negara yang jauh lebih maju dibanding tempat mereka tinggal. Gaga dan Sago yang mulai mendapat respon positif semakin bergairah menjelaskan uang kertas ini kepada sang tuan rumah. Lalu, mereka memperkenalkan mesin pencetak uang.

"Gambar Anda nanti akan terpampang dalam lembar uang kertas ini," Gaga menunjuk uang kertas sembari menyunggingkan senyum kearah Saka.

"Benarkah?" sela Saka berbinar. Dalam hati Saka girang bukan kepalang. Seumur hidupnya, tidak ada orang yang memberikan penghormatan sebagaimana dua tamu istimewanya.

Kami pun membisikkan ke dada Saka,"Hai Saka, kalau uang kertas bergambarkan dirimu diterbitkan, pasti kamu menjadi manusia terkenal hingga daratan yang pernah disinggahi para tamumu yang luar biasa itu."

"Seratus persen Anda akan menjadi orang terkenal!" Sago menimpali sembari mengangkat dua ujung jempol tangannya ke atas. Sago memang agen tulen kami. Tanpa kami bisikan sesuatu, ia sudah tahu apa yang harus diperbuat. Dan pujian itu pun melambungkan angannya. Ha…ha…ha... pancingan Gago dan sago mengena. Dua agen kami ini pun semakin antusias meyakinkan suku Sukus bahwa mata uang kertas akan sangat membantu membuat perekonomian mereka efisien.

Dan untuk kepentingan itu, sebuah institusi bernama bank perlu didirikan. Bank akan meyimpan deposit koin emas mereka yang menganggur (idle). Lalu uang deposan ini -sebagai taktik, ya hanya sekadar taktik- bisa dipinjamkan kepada anggota suku lainnya yang memerlukan. Dengan demikian, kesannya semua sumber daya yang ada menjadi optimal karena dialokasikan untuk kegiatan ekonomi produktif.

Suku Sukus yang terkenal suka membantu, sangat impresif dengan ide itu. Mereka pikir, lembaga ini sangat luar biasa karena bisa melanjutkan tradisi mereka untuk membantu orang lain. Jadilah ide itu diamini dan dilanjutkan dengan mendirikan bangunan yang difungsikan sebagai bank yang pertama di Pulau Aya.

Upacara pembukaan perdana Bank Aya, sebut aja begitu, sangat meriah. Orang sepulau tumplek blek jadi satu merayakan hari bersejarah itu. Sebagian besar dari mereka sudah membawa koin-koin emas yang selama ini hanya disimpan di bawah bantal. Setiap satu koin emas yang mereka simpan, mereka mendapatkan ganti uang kertas dengan jaminan bila sewaktu-waktu mereka menghendaki, mereka bisa menukarkan kembali uang kertas yang saat ini mereka terima dengan koin emas yang pernah mereka simpan.

Hampir semua anggota suku Sukus menyimpan koin emas mereka di Bank Aya. Sejumlah 100.000 lembar uang kertas diserahkan, yang berarti Bank Aya -yang dimotori Gago dan Sago- menerima 100.000 koin emas. Tak terasa, akhirnya penduduk negeri Pulau Aya begitu menikmati uang kertas itu. Mereka merasakan dengan menggunakan uang kertas itu, transaksi yang mereka lakukan jauh lebih simpel dan nyaman.

Praktis semakin jarang orang yang menggunakan koin emas dalam transaksi sehari-hari. Sampai akhirnya uang kertas menjadi mata uang dominan. Kenapa mereka begitu? Karena selain lebih memudahkan transaksi, mereka juga dengan mudah menukarkan uang kertas mereka dengan koin emas jika mereka memerlukan. Untuk yang satu ini, Gaga dan Sago sangat menjaga kepercayaan. Setiap kali ada yang mau menukarkan, kali itu juga koin emas diberikan.

Demikian seterusnya sehingga lama-lama orang tidak khawatir dengan uang kertas miliknya. Toh kalau mereka mau, mereka bisa menukarkannya sepanjang waktu.

Perkembangan ini ternyata menjadi berita di mana-mana. Suku Tukus yang mendiami pulau Baya, diam-diam memuji dan ingin sekali praktik yang sama juga diterapkan di pulau mereka. Bayangkan, dari semula melakukan jual beli dengan cara barter, tiba-tiba ada sistem super canggih yang bisa membantu mereka melakukan transaksi dengan sangat mudah dan efisien.

Tak sabar, mereka mengutus duta menemui Gaga dan Sago. Mereka minta agar sistem yang mereka bawa juga bisa diterapkan di Pulau Baya. Gaga menyanggupi. Dia meminta Sago untuk membuka cabang Bank Aya di Pulau Baya dan mengangkat Sago sebagai manajernya. Hanya bedanya, di sini hanya sedikit penduduknya yang memiliki koin emas.

"Anda tidak perlu kecil hati," kata Sago menghibur."Tanpa koin emas pun Anda bisa mengenyam kenikmatan sebagaimana tetangga pulau Anda," dia bermanis-manis menerangkan. Tentu saja keterangan ini disambut gembira oleh penduduk Pulau Baya.

Aha!, Sago belul-betul agen kami yang cemerlang. Otak bulusnya benar-benar tidak menyimpang dari program yang sudah kami tanamkan: keserakahan.

Begitulah. Mulailah Sago membagikan uang kertas. Ada 100 kepala keluarga di pulau itu. Setiap kepala keluarga diberikan 100 lembar uang. Jadi total uang yang tcrsirkulasi di pulau itu mcncapai 100.000. "Karena Anda tidak menyimpan koin emas seperti halnya penduduk pulau seberang, sebagai gantinya. Anda bisa menggunakan uang yang telah saya bagikan."

Apa yang dikatakan Sago itu disambut dengan senang. Tepuk tangan riuh membahana. Mereka bersyukur, sebentar lagi negeri mereka tidak akan sekolot dan seprimitif tempo hari. Namun, kemeriahan itu sempat hening ketika Sago menyela, "Harap diingat. Uang yang saya bagikan tadi tidak gratis. Ini adalah pinjaman. Nanti setelah setahun dari saat ini, Anda harus mengembalikan uang ini plus 100 lembar uang tambahan."

"Kenapa harus ada tambahan 100? Kenapa tidak mengembalikan sejumlah yang kami pinjam?" seorang pemuka suku Tukus menyela.

"Huuh ! Dasar manusia bebal," umpat kami yang tak sabar mendengar jawaban cerdas dari Sago. "Betul Anda memang hanya meminjam 1000. Yang 100 itu adalah untuk membayar jasa yang kami sedikan," Sago dengan senyum lepas menjelaskan. Penjelasan brilian! Kami turut puas mendengar Sago. Tak terasa air liur kami berloncatan di sela-sela taring-taring kami yang panjang menunggu agar para manusia bodoh itu tak lagi rewel menyoal tambahan yang wajar.

Meski ada yang masih mengganjal, penjelasan Sago cukup tepat untuk membungkam naluri kritis warga Tukus. Itu terlibat dari tak surutnya minat warga Tukus untuk mengambil tawaran Sago. Paling tidak, mereka bisa merasakan mudahnya bertransaksi dengan uang kertas. Dan yang lebih penting lagi, menikmati status sebagai warga dunia baru, Modern dan prestisius.

Setelah sekian lama, dua agen kami itu mulai memainkan kartu truf. Dan pengamatan Gaga, di pulau Aya, rata-rata hanya sekitar 10 persen uang kertas yang ditukarkan ke koin emas pada setiap waktu. Sisanya, 90 persen tetap berada di kotak penyimpanan di Bank Aya. Mencermati bahwa uang kertas mereka sudah merajai alat tukar, kami pun tergelak.

"Hai Gaga, kenapa tidak kau cetak uang lagi? Bukankah hanya sedikit dari mereka yang menukarkan uang kertasnya dengan koin emas?

Bukankah kau bisa meraup untung luar biasa dengan cara ini? Ayolah kawan, tunjukkan otak cerdasmu," begini kami tak henti menggelitiki Gaga.

Dan benar, Gago memang agen kami yang jempolan. Ia lalu mencetak uang kertas lebih banyak. Tidak tanggung-tanggung hingga 900.000. Dalam kalkulasinya, jumlah ini, ditambah jumlah uang kertas yang telah dibagikan sebelumnya, totalnya 1.000.000. Kalau ada orang yang datang hendak menukarkan uang kertas ini, berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah hanya 10 persen saja. Nah, kalau ini yang terjadi, bukankah ia menyimpan 100.000 koin emas, yang tidak lain adalah koin yang telah disetor oleh seluruh penduduk Sukus? Kalau hitung-hitungan pahit itu benar-benar terjadi, bukankah cadangan koin emas yang diperlukan sudah cukup?

Fantastic! Creating Money from nothing!
Menciptakan uang dari kekosongan. Hanya orangorang seperti Gaga, kawan kami, yang bisa. Begitulah. Akal bulas Gaga bergerak. la pinjamkan 900.000 uang kertas yang baru dicetaknya kepada warga Sukus yang memerlukan. Kalau di pulau Baya, Sago mengutip tambahan ekstra sebesar 10 persen dari pokok, nah Gaga meningkatkan kutipan hingga 15 persen. Artinya kalau seseorang meminjam 1000 lembar uang kertas. di akhir tahun ia harus mengembalikan 1150 uang kertas. di mana 150-nya adalah charge dari layanan yang diberikan.

Hari pun berganti. Bulan berjalan begitu cepat. Tak terasa setahun pun lewat. Apa yang terjadi dengan suku Sukus dan Tukus? Pelan tapi pasti. penduduk pulau Aya merasakan harga-harga kebutuhan barang dan jasa mereka naik. Mereka tidak tahu apa penyebabnya. Banyak di antara orang yang meminjam uang dari Gago itu mengalami gagal bayar. Mereka bukan orang pemalas atau penganggur. Tapi meski telah bekerja keras, mereka masih kesulitan melunasi utang berikut bunganya. Dan mereka memang tidak akan pernah bisa. Bahkan ketika mereka menjadikan 24 jam untuk bekerja. Lihatlah. uang yang dipinjamkan 900.000 bila ditamban bunga 15 persen. berani senilai 135.000 atau jumlah total mencapai 1.135.000. Padahal. jumlah uang yang beredar banya 1.000.000 (100.000 diberikan sebagai ganti 100.000 keping koin emas. ditambah uang baru 900.000 yang dicetak Gago).

Dan inilah panen raya yang kami tunggu. Kesuksesan Gago dan Sago. Kami sebut begitu, karena sistem yang dikenalkan dua agen top kami itulah yang pertama kali mengubah watak bisnis kekeluargaan menjadi bisnis yang individual kompetitif. Kehidupan sosial mereka yang harmonis, penuh toleransi dan tolong menolong, perlahan luntur. Masing-masing kepala -apalagi yang berhutang-harus bekerja keras demi mengejar uang untuk melunasi kewajibannya. Sehingga, ketika ada ombak besar menyapu sebagian rumah penduduk.

kebiasaan mereka untuk saling bantu luntur, Prinsip saling membantu berubah menjadi time is money. Membantu orang boleh, tapi harus ada kompensasinya: uang. Sisi kehidupan sosial yang akrab perlahan berubah individual. Masing-masing mulai terbebani untuk berusaha keras untuk kepentingan masing-masing. Sungguh perubahan yang sulit sekali kami capai sendirian. bila tanpa dua kaki tangan kami si Gago dan Sago.

Hal yang sama pun dialami oleh Suku Tukus. Awalnya mereka tidak menyadari. Namun, lambat laun mereka merasakan perubahan. Kebutuhan pokok yang dulunya cukup ditukar dengan barang kerajinan atau sebaliknya, kini mulai sedikit bermasalah. Mereka tidak tahu kenapa tanpa terasa, dengan berlalunya waktu, harga-harga terus merambat naik. Padahal, mereka telah membanting tulang dan bekerja lebin keras. Kerjasama antar warga yang semula menjadi tradisi, lama-kelamaan juga mulai luntur. Mereka menjadi egois, diburu kebutuhan masing-masing. Toh di akhir tahun tidak semua bisa membayar kewajibannya. Seperti dialami suku Sukus, suku Tukus pun anggotanya banyak yang default alias gagal bayar.

Melihat perkembangan ini, kami di dunia setan pun bersuka ria. Betapa tidak, dimana kerakusan menjadi idiologi, di sinilah singgasana kami dibangun. Karena itu. kami pun semakin rajin membisiki Gago dan Sago untuk tidak hanya berhenti di sini saja. Tapi untuk semakin menguasai manusia-manusia bodoh yang duninya berlagak saling bantu itu.

Gaga dan Sago memang sangat impresif. Mereka adalah ciptaan jenius. Terbukti ketika mereka melancarkan dua trik lanjutan untuk memenangkan keadaan. Kepada para penunggak sebagian ada yang dipaksa membayar. Caranya, dengan menyita harta benda mereka. Rumah, sawah, ternak dan maupun harta benda lainnya pun segera berpindah tuan. Sementara penunggak yang mempunyai hubungan baik dengan Gaga dan Sago diberi kesempatan untuk memperpanjang masa angsuran. Kebetulan Taka, pimpinan suku Tukus, salah seorang di antara penunggak. Maka untuk atas nama "kebaikan hati" Sago bukan saja memberikan tambahan waktu mengangsur utang.
tapi juga memberikan tambahan utang baru. Kenapa? Dia beralasan utang ini biar bisa dipakai untuk melancarkan kegiatan produktifnya. Namun alih-alih bisa membayar periode berikutnya, Taka kembali tak bisa melunasi utangnya.

Malu karena tak bisa membayar kewajiban, Taka menarik diri dan menghindari bertemu dengan Sago. Ia mulai kehilangan kepercayaan diri. Kewibawaannya sebagai kepala Suku Tukus berbalik ke titik nadir. Sementara, Sago yang semula berlagak membantu, kini tinggal melakukan eksekusi. Ia semakin kaya. Ia pun berubah lagaknya Tuan Besar. Ha..ha...ha... Dalam dunia kami, kedua agen ini memang layak sombong.
Karena kepintaran dan kejeniusannya. Hanya orang-orang dengki saja yang menyebut caracaranya
menguasai manusia-manusai bodoh itu sebagai keculasan.

Tidak bermoral? Ini hanya retorika gombal, persetan dengan moral.

Setelah beberapa tahun berselang, Gago dan Sago yang semula datang ke Aya dan Baya dengan modal mesin pencetak uang, kini telah menjadi pemilik hampir semua kekayaan di dua pulau tersebut. Mereka menguasai ekonomi dan properti. Lambat laun, dengan uang, mereka pun beroleh kekuasaan baru: menguasai politik negeri itu.

Sementara masyarakat dua pulau itu tinggalah sebagai pekerja kasar. Kemiskinan tiba-tiba seperti menjadi endemik yang terus menyebar cepat. Mereka bekerja keras, untuk hasil yang sedikit. Mereka kehilangan waktu untuk saudara dan tetangga. Mereka semakin jarang melakukan upacara keagamaan. Lebih parah lagi, mereka semakin tidak perhatian satu sama lain.

Kejahatan yang semula hanyalah cerita yang sering mereka dengar dari negara antah berantah, kini menghampiri: marak di depan hidung mereka sendiri. Karena tidak bisa bayar utang, mereka mengorbankan anak dan bahkan istrinya untuk diperbudak. Prostitusi yang semula begitu tabu bagi mereka, seperti menjadi budaya baru. Semua budaya yang datang dari Gago dan Sago, dianggap superior. Budaya lokal pun lambat laun punah. Gago dan Sago telah menguasai semua, tak ada yang tersisa: ekonomi, budaya, kekuasaan dan keadilan yang bisa mereka beli melalui uang.

Namun ini bukan akhir petualangan mereka. Mereka tak hanya ingin menaklukkan dua pulau Aya dan Baya. Mereka ingin semua pulau di dunia berada dalam pengaruh kekuasaan mereka. Target mereka bukan untuk menaklukkan tentara musuh di negara-negara jauh. Tapi, menaklukkan ekonomi mereka. Membuat mereka terkesan, lalu ketika saatnya tiba, mencekik mereka dengan sekali hentak: melalui uang kertas tanpa jaminan, aturan cadangan 10 persen dan bunga. Tiga kombinasi jurus ini, sudah terbukti ampuh. Setidaknya, dua penduduk negeri sudah mereka kuasai.

Perangkap inilah yang dengan cerita dan intensitas berbeda terjadi dalam krisis di Asia Tenggara. Cara-cara yang sama akan terus kami kembangkan, sehingga segelintir agen kami yang berkuasa, menyisakan masyarakat banyak yang hidup sengsara. Kalau di kawasan itu sekarang sudah mulai recovery, sasaran bisa dialihkan ke tempat lain. Boleh juga, di kawasan yang sama, tentu menunggu saat yang tepat muncul kembali. Saat-saat balon ekonomi dan keuangan tak lagi bisa menggelembung. Saat-saat ketika manusia kelimpungan. Saat-saat ketika kami untuk kesekian kali merayakan kemenangan karena tiga pilar utama setan- Fiat Money, fractional reserve requirement, dan interest-behasil menggoyang ekonomi.

Sumber : Satanic Finances; A. Riawan Amin 

Bahaya Utang

Ketika Utang Berbuah Perbudakan

Utang telah kami gunakan untuk menghancurkan negeri dengan kekayaan melimpah ini agar rusak sehancur-hancurnya. Utang telah menjadikan mereka, mengutip Publilius Syrus, pengarang roman, dari seorang merdeka sebagai budak. Debt is The slavery of The free. Tidak terkecuali, menjadi budak IMF , Bank Dunia dan lembaga donor lainnya.

Ketika krisis menyapu kawasan Asia Tenggara, mantan Presiden Soeharlo terpaksa membungkuk di hadapan Mitchel Camdessus. Soeharto, sang jenderal yang lebih dari 30 tahun berjaya, tiba-tiba tertunduk di hadapan komprador asing dan dipaksa untuk menandatangani letter of intents (LoI).

Alih-alih menyehatkan ekonomi Indonesia, Lol yang berisi segepok kebijakan yang dipaksakan IMF, lebih membuat suasana ekonomi bertambah panas. Kekacauan ekonomi pun merebak dan mulai merembet ke dunia perbankan. Banyak kredit perbankan macet alau non performing loan-nya (NPLs) menjadi tinggi. NPLs ini yang mengerutkan jumlah suplai uang beredar. Bank merespons dengan menyita kolateral dan menuntut pembayaran yang dipercepat dari nasabahnya.

Namun, apa daya, depresiasi mata uang yang begitu tajam telah membuat utang dari debitur baik individu, perusahaan, bahkan Negara bertambah tanpa mereka menaikkan agregat utang yang dipinjam. Solusi yang diberikan text book untuk situasi ini adalah dengan melakukan kebijakan expansionary monetary. Caranya sederhana, melalui tiga hal berikut: mendorong tabungan, mengurangi cadangan wajib (reserve requirement) dan meningkatkan suku bunga.

Dan ketiga hal ini, kami melalui IMF merekomendasikan yang ketiga. Ya, menaikan suku bunga. Atau lebih dikenal dengan kebijakan uang ketat (tight money policy). Argumentasi-nya, suku bunga tinggi maka dana-dana akan tersedot kembali dalam sistem perbankan. Tidak akan ada dana yang lari ke luar negeri karena sweeter bunga dalam negeri yang jauh lebih menarik. Dengan demikian, kepecayaan investor akan bisa dipulihkan.

Pemerintah Indonesia tidak punya pilihan. Ingat, sebagai "budak" ia harus menurut apa pun yang didiktekan sang tuan. Kamilah bangsa setan yang berada di belakang skenario kekacauan ini. Lalu terjadilah kebijakan yang sangat ganjil itu.

Perbankan menaikkan suku bunga deposito hingga 67 persen, sementara mereka hanya mendapatkan
bunga kredit sebesar 10 persen! Tersebarlah virus negative spread, akibat bunga yang diterima bank melalui peminjam jauh lebih kecil dari bunga yang harus dibayarkan bank kepada penabung / deposan. Karena kondisi ini, kemampuan bank untuk membayar pun jatuh. Liabilities (utang) mereka semakin meningkat, sementara modal mereka tergerus untuk menutup kerugian.

Bahkan, banyak diantaranya yang sampai kehabisan modal. Tak pelak banyak direksi perbankan yang berhenti. Namun di lain pihak, buat deposito nasabah terus berjalan dan tuntutan bunga terus membumbung. Kami berupaya keras agar utang bank-bank tersebut dialihkan dan dibebankan kepada pemerintah.

Karena khawatir uangnya hilang, para deposan ramai-ramai menarik simpanan di bank. Bank tak bisa memenuhi. Mereka melempar handuk. Lalu terbitlah kebijakan untuk menalangi bank-bank yang kolaps dengan apa yang disebut Bank Indonesia sebagai kebijakan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBl).

Ke dalam modal perbankan yang sudah negatif itu disuntikkan obligasi pemerintah. Bunga yang disebabkan penerbitan obligasi ini tentu ditanggung pemerintah. Kompensasinya. aset-aset produktif bank diambil alih oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Badan inilah yang kemudian melakukan restrukturisasi dan penjualan aset, tepatnya obral aset nasional. Strategi yang sangat menguntungkan bagi kolega-kolega manusia berjiwa setan dari negara lain.

Kenapa begitu? Sekali lagi, inilah akibat sebagai budak. IMF menghendaki penjualan aset nasional segera dilakukan. Siapa pembelinya?Tentu tidak jauh-jauh dari cukong yang menjadi tangan panjang IMF. Tak heran bila hasil menjual aset yang serba tergesa-gesa itu, hanya memberikan recovery rate yang rendah. Bahkan terendah di kawasan.

Malaysia yang tingkat utangnya lebih aman dari Indonesia lebih beruntung, mereka lebih loyal kepada prinsip Islam dan bisa mendongakkan kepala dan mengatakan "No to IMF". Bila IMF memaksa Indonesia melakukan kebijakan suku bunga tinggi, negara jiran itu lebih mandiri dan memilih kebijakan kedua: mengurangi cadangan wajib. Bila sebelum krisis cadangan wajib mereka mencapai 13 persen, pasca krisis cadangan wajib perbankan hanya empat persen.

Dengan cara itu, setiap simpanan RM 1.000, sektor perbankan bisa menggandakan uang hingga RM24.000 untuk membuat total simpanan menjadi RM25.000. Suplai uang memang membanjiri pasaran, tapi utang bunga tidak bertambah. Kami sangat terganggu dengan strategi bangsa Muslim ini.







Tahukah Anda?

Selain kebijakan uang ketat (tight money policy), IMF juga
menawarkan resep kebijakan fiskal (fiscal policy) kepada
pemerintah Indonesia. Kebijakan ini dimaksudkan untuk
mengurangi pengeluaran pemerintah. Pada saat yang sama,
meningkatkan pendapatan melalui pajak. Harapannya,
pemerintah bisa mengurangi budget deficit-nya sehingga
memulihkan kepercayaan investor. Namun kontraksi
anggaran yang diciptakannya menimbulkan shock
masyarakat karena banyak subsidi -seperti BBM -ditarik.
Rakyat yang dalam kondisi kesusahan semakin terhimpit.
Apalagi banyak diantaranya yang menganggur mendadak
karena terkena dampak rasionalisasi perusahaan. Mereka
pun marah. Inilah mungkin kebijakan yang makin
mengurangi kepercayaan mereka kepada pemerintah.
Gelombang demo besar-besaran akhirnya melibas dan
melengserkan Presiden Soeharto.

Dengan mengambil kebijakan ini, maka industri perbankan Malaysia kembali mempunyai darah untuk memberikan pinjaman kepada sektor riil yang sedang dalam proses menjadi korban. Sektor riil mampu menyerap dana pinjaman bank karena suku bunga yang ditawarkan rendah (tidak seperti kasus Indonesia). Namun, bukan berarti dana domestik bisa terbang ke luar negeri (capital out flow).
hal ini, pemerinlah Malaysia sangat cerdas, dengan melakukan kebijakan capital control. Kebijakan ini yang menghalangi dana bebas lari ke luar negeri. Mereka benar-benar merepotkan kami.

Ingat kisah Gaga dan Sago? Persis seperti itulah Indonesia. Ketidakmampuan membayar utang berakibat aset-aset negara diobral. Investor asing yang mendapat restu lMF pun panen. Tak hanya kehilangan aset-aset berharga. Karena utang, Indonesia juga kehilangan harkat dan martabat (dignity) sebagai negara berdaulat. Termasuk, tak berdaya menepis resep obat lMF yang ternyata justru menambah parah sakit ekonomi nasional.
Rakyat Indonesia pun bertambah miskin dan menderita.

Indonesia kembali membuktikan, betapa program kami yang brilian melalui Fiat Money dan interest, telah memberangus negeri kaya menjadi negeri para paria.

sumber : Satanic Finance; A. Riawan Amin

Standar Orang Miskin

Standar Orang Miskin Dunia Tambah Miskin... 


Standar Orang Miskin, marginal, miskin
World Bank mengkategorikan orang miskin dalam dua kelompok yaitu pertama Extreme Poverty untuk orang yang hidup dengan penghasilan kurang dari US$ 1 /hari. Kelompok kedua disebut Moderate Poverty yaitu orang yang hidup dengan penghasilan kurang dari US$ 2/hari.

Karena nilai yang dipakai sebagai ukuran adalah US$, dimana angka US$ ini sendiri turun terus nilai daya belinya – artinya orang miskin dunia selain jumlahnya tambah banyak – mereka juga sebenarnya tambah miskin dari waktu ke waktu.

Hal ini sangat berbeda dengan ketentuan dalam Islam yang menggunakan ukuran baku sepanjang zaman, yaitu Dinar atau Dirham. Kita tahu daya beli Dinar stabil sepanjang sejarah, harga kambing di zaman Rasulullah 1 Dinar, maka dengan satu Dinar saat ini (Rp 1,054,000 saat tulisan ini dibuat) kita tetap bisa membeli 1 kambing qurban yang terbesar di Masjid saya. Orang miskin dalam Islam diukur dari kewajibannya. yaitu kewajiban bayar zakat Mal. Orang yang berpenghasilan kurang dari nishab nya yaitu 20 Dinar, maka dia tidak wajib zakat mal , malah berhak menerima zakat.

Mari sekarang kita bandingkan dengan ukuran yang dipakai di dunia saat ini; Orang yang mencapai Extreme Poverty pendapatannya hanya maksimal US$ 365/tahun; ini setara dengan 3.29 Dinar; Sementara yang masuk kategori Moderate Poverty pendapatannya dibawah US$ 730/tahun atau setara 6.58 Dinar. Angka ini trendnya-pun menurun. Sementara itu angka kemiskinan 20 Dinar dalam Islam berlaku sepanjang masa. Dari sini kita bisa belajar bahwa Orang miskin dalam Islam seharusnya masih minimal 3 kali lebih kaya dari standar kemiskinan dunia dan angkanya tetap sepanjang zaman yaitu batasan nishab zakat mal yang 20 Dinar.


Mungkin Anda berargumen bahwa ini karena yang dipakai ukuran Dinar – kalau yang dipakai US$ tentu angka kemiskinan akan kelihatan tetap; disinilah justru pointnya. Kalau kita mengukur sesuatu – ukurannya harus terbukti tetap, bukan menurun. Dalam hal harta – ukuran tetap ini adalah daya beli yang tetap bukan angkanya yang tetap. yang terbukti memiliki daya beli tetap sepanjang zaman adalah Dinar – sedangkan US$ dan perbagai mata uang fiat (uang kertas) lainnya apalagi rupiah nilainya turun terus sepanjang zaman.

Beralihlah ke timbangan yang adil, maka kita akan tahu posisi kita yang sebenarnya. Wallahu a’lam.

Sumber : geraidinar

Kepemilikan Umum

Kepemilikan Umum dalam Islam


MELARANG PRIBADI UNTUK MENGUASAI BARANG-BARANG YANG DIPERLUKAN OLEH MASYARAKAT

Sesungguhnya perbedaan yang paling nampak diantara berbagai sistem perekonomian yang ada adalah pandangannya terhadap hak milik pribadi. Sistem Komunis menghilangkan pemilikan pribadi secara mutlak, kecuali sebagian barang-barang ringan, seperti perkakas rumah dan kendaraan.
Faham Sosialis terutama setelah terjadinya revolusi, tidak memperbolehkan seseorang memiliki sarana produksi, baik itu berupa tanah, pabrik (industri) dan yang lainnya, dan berusaha untuk mengeluarkan dari tangan pribadi-pribadi kemudian dipindahkan kepemilikannya kepada negara.

Sebaliknya, sistem Materialis mengakui pemilikan dalam segala sesuatu dan hampir tidak mengharuskan persyaratan-persyaratan untuk membatasi dari penyelewengan pemiliknya.

Tetapi Islam berada di tengah secara adil antara sistem-sistem yang saling berbeda. Islam memperbolehkan pemilikan pribadi terhadap tanah dan barang-barang yang bisa dipindahkan untuk memiliki sarana produksi dan yang lainnya. Tetapi Islam mengeluarkan dari lingkup pemilikan pribadi segala sesuatu yang diperlukan oleh masyarakat, sehingga Islam mewajibkan pemilikannya pada masyarakat. Dengan begitu tidak dapat dimonopoli oleh seseorang atau beberapa orang saja, sehingga ia berkuasa dan menyimpan barang-barang itu untuk diri mereka saja. Sementara mereka tidak memberi kesempatan kepada masyarakat untuk memperolehnya kecuali dengan harga yang bisa mereka permainkan.
Dengan demikian maka dapat membahayakan bagi seluruh masyarakat.

Kepemilikan Umum, ekonomi, ekonomi islam, hukum ekonomi islam


Contoh barang-barang primer yang diperlukan bersama adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya sebagai berikut:

Masyarakat Islam
"Manusia memiliki bersama dalam tiga hal; air, rumput dan api." (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah) Dalam riwayat lain ada tambahan: yaitu "garam."

Setiap manusia mempunyai hak untuk memanfaatkan barang-barang tersebut, tidak boleh bagi seorang pun untuk menimbunnya, (di saat diperlukan).

Kepemilikan Umum, ekonomi, ekonomi islam, hukum ekonomi islam

 Hadits tersebut mengkhususkan tiga atau empat perkara dengan ketentuan hukum seperti itu, dikarenakan tiga perkataan itu sangat diperlukan dalam kehidupan masyarakat Arab saat itu.
Dapat dianalogikan (disamakan) dengan itu apa-apa yang mirip dengannya, yang itu diperlukan oleh masyarakat.

Oleh karena itu golongan Malikiyah berpendapat bahwa tambang yang dikeluarkan dari perut bumi tidak diperbolehkan bagi individu (perorangan) untuk memilikinya, meskipun ditemukan di tanah milik seseorang. Agar tidak menyebabkan masyarakat bergantung kepadanya dan menutup kesempatan bagi orang lain, yang itu bisa berakibat munculnya berbagai kezhaliman dan pertengkaran yang menggoncangkan keutahan masyarakat Islam.


Kepemilikan Umum, ekonomi, ekonomi islam, hukum ekonomi islam
Seperti juga menurut golongan Syafi'iyah bahwa setiap sumber (tambang) yang nampak, seperti minyak, aspal, bahkan korek api, atau batu yang bukan milik perorangan maka tidak seorang pun berhak menahan kemudian tidak memberi kesempatan orang lain. Tidak pula seorang penguasa menahan untuk dirinya dan tidak pula orang tertentu.

Demikian juga menurut golongan Hanabilah bahwa setiap tambang yang nampak yang ditemukan oleh manusia dan dimanfaatkan tanpa ada kesulitan yang berat, ia tidak boleh memiliki atau memberikannya kepada seseorang, karena bisa membahayakan kaum Muslimin dan membuat kehidupan mereka sempit. "Nabi SAW pernah memberikan kepada Abyadh bin Jamal sebuah tambang garam, maka ketika dikatakan kepada beliau bahwa itu sama dengan air, kemudian Nabi SAW mengambil kembali darinya.


Sumber : Sistem Masyarakat Islam dalam Al Qur'an & Sunnah
(Malaamihu Al Mujtama' Al Muslim Alladzi Nasyuduh)
oleh Dr. Yusuf Qardhawi

Uang Dalam Doktrin Zionis

Dalam protokolat Zionis yang disusun di
kediaman Sir Meyer Amschell Rothschild di
tahun 1773 dan disahkan penggunaannya
sebagai agenda bersama Zionis-Yahudi
dalam Konferensi Zionis Internasional di
Swiss (1897), berkali-kali disebutkan
penguasaan dan penggunaan emas (uang)
sebagai senjata penguasaan manusia.

Zionisme merupakan paham yang berasal dari ajaran yang diinspirasikan dari pembangkangan iblis terhadap perintah Allah SWT, yang sedemikian bagusnya dimanifestasikan di dalam ayat-ayat bernama Kitab Talmud, berusia setua kehidupan manusia, dan akan terus didukung oleh para pasukan pengikut iblis (pembangkang terhadap ketauhidan). Misi utama iblis, dan juga kaum Zionis, adalah menjauhkan umat manusia dari jalan tauhid. Ini saja.

Sebab itu, salah satu strategi utama mereka adalah dengan menghancurkan agamaagama langit seperti Yahudi Taurat, Nasrani Nabi Isa, dan juga Islam. Menghancurkan di sini bukan dalam artian menghapus sama sekali, namun mengubahnya menjadi agama yang tidak bertauhid. Ke dalam agama Yahudi Musa atau Yahudi Taurat, para pengikut iblis ini menyusupkan Samiri dan para penerusnya yang membuang Taurat dan mengubah agama Tauhid tersebut menjadi agama rasialis dengan Kitab Talmudnya. Hal inilah yang kemudian menjadikan bangsa Yahudi secara garis besar menjadi sangat rasis dan merasa sebagai bangsa pilihan Tuhan. Mereka menganggap manusia lain selain ras Yahudi sebagai kaum yang sederajat dengan hewan (Ghoyim atau Gentiles). Semua ini berasal dari ajaran hitam Kitab Talmud.


Ke dalam ajaran Nabi Isa a.s. yang awalnya bukan agama yang ofensif, hanya ditujukan bagi kaum Nabi Isa a.s. dan bukan untuk seluruh umat manusia, kaum pengikut iblis ini menyusupkan tokohnya yang bernama Paulus, seorang Yahudi dari Tarsus, yang mengarang Injil Perjanjian Baru dan mengubah sifat dasar agama ini menjadi agama yang ofensif dan tidak terbatas hanya untuk kaum Nabi Isa a.s. saja. Paulus-lah yang mengawali pengrusakkan sifat asasi agama ini sehingga menjadi agama yang seperti sekarang ini di mana banyak sekali menjadi perpanjangan tangan kaum Zionis secara ideologis maupun praktis.


uang dalam doktrin zionis
Ke dalam Islam, Yahudi pengikut iblis ini melancarkan berbagai serangan jahat, baik secara sembunyi-sembunyi maupun langsung kepada Nabi Muhammad SAW dan juga terhadap ajaran Allah SWT. Tonggak keberhasilan mereka adalah dengan memecah umat tauhid ini menjadi dua—Sunni dan Syiah—lewat penyusupan seorang Yahudi dari San’a (Yaman) yang pura-pura masuk Islam bernama Abdullah bin Saba’, seorang yang dianggap sebagai pendiri ajaran Syiah. 

Terhadap keotentikan kitab suci al-Qur’an, Yahudi iblis ini juga berupaya untuk merusaknya, namun Alhamdulillah sampai sekarang, keaslian Qur’an tetap terjaga dengan baik. Salah satunya disebabkan banyaknya para penghafal Qur’an, karena kitab yang satu ini memang mudah dihafal, tidak seperti kitab-kitab lainnya.

Uang Dalam Doktrin Zionis
 
Penghancuran terhadap tiga agama langit dilakukan Yahudi Talmudian untuk menundukkan semua umat manusia di bawah kekuasaannya. Sarana paling efektif untuk menuju cita-cita mereka salah satunya dengan menggunakan kekuatan uang. Dalam protokolat Zionis yang disusun di kediaman Sir Meyer Amschell Rothschild di tahun 1773 dan disahkan penggunaannya sebagai agenda bersama Zionis-Yahudi dalam Konferensi Zionis Internasional di Swiss (1897), berkali-kali disebutkan penguasaan dan penggunaan emas (uang) sebagai senjata penguasaan manusia.

Dalam butir ke tiga, Protokolat Zionis berbunyi: “Kekuatan uang selalu bisa mengalahkan
segalanya. Agama yang bisa menguasai rakyat pada masa dahulu, kini mulai digulung dengan kampanye kebebasan. Namun rakyat banyak tidak tahu harus mengapa dengan kebebasan itu.
Inilah tugas Konspirasi untuk mengisinya demi kekuasaan, dengan kekuatan uang.”

Lalu butir keenam berbunyi: “Bagi kita yang hendak menaklukkan dunia secara finansial, kita harus tetap menjaga kerahasiaan. Suatu saat, kekuatan Konspirasi akan mencapai tingkat di mana tidak ada kekuatan lain yang berani untuk menghalangi atau menghancurkannya. Setiap kecerobohan dari dalam, akan merusak program besar yang telah ditulis berabad-abad oleh para pendeta Yahudi.”

Butir ke delapan adalah: “Beberapa sarana untuk mencapai tujuan adalah: Minuman keras, narkotika, pengrusakan moral, seks, suap (uang), dan sebagainya. Hal ini sangat penting untuk menghancurkan norma-norma kesusilaan masyarakat. Untuk itu, Konspirasi harus merekrut dan mendidik tenaga-tenaga muda untuk dijadikan sarana pencapaian tujuan tersebut.”
Butir ke sembilan: “Konspirasi akan menyalakan api peperangan secara terselubung. Bermain di kedua belah pihak. Sehingga Konspirasi akan memperoleh manfaat besar (penguasaan perekonomian suatu negeri, pen) tetapi tetap aman dan efisien. Rakyat akan dilanda kecemasan yang mempermudah bagi Konspirasi untuk menguasainya.”

Butir ke-11 berbunyi: “Perang yang dikobarkan Konspirasi secara diam-diam harus menyeret negara tetangga agar mereka terjebak utang. Konspirasi akan memetik keuntungan dari kondiini.” 
Butir ke-13 berbunyi: “Dengan emas, Konspirasi akan menguasai opini dunia. Satu orang Yahudi yang menjadi korban sama dengan 1000 orang non-Yahudi (Gentiles/Ghoyim) sebagai balasannya.”

Butir ke-15 berbunyi: “Krisis ekonomi yang dibuat akan memberikan hak baru kepada Konspirasi, yaitu hak pemilik modal dalam penentuan arah kekuasaan. Ini akan menjadi kekuasaan turunan.”

Butir ke-18 berbunyi: “Perang jalanan harus ditimbulkan untuk membuat massa panik. Konspirasi akan mengambil keuntungan (terutama finansil, pen) dari situasi itu.”

Butir ke-19 berbunyi: “Konspirasi akan menciptakan diplomat-diplomatnya untuk berfungsi setelah perang usai. Mereka akan menjadi penasehat politik, ekonomi, dan keuangan bagi rezim baru dan juga di tingkat internasional. Dengan demikian, Konspirasi bisa semakin menancapkan kukunya dari balik layar.”

Butir ke-10 berbunyi: “Monopoli kegiatan perekonomian raksasa dengan dukungan modal yang dimiliki Konspirasi adalah syarat utama untuk menundukkan dunia, hingga tidak ada satu kekutan non-Yahudi pun yang bisa menandinginya. Dengan demikian, kita bisa bebas memainkan
Butir ke-21 berbunyi: “Penguasaan kekayaan alam negeri-negeri non-Yahudi mutlak dilakukan.”

Butir ke-19, 20, dan 21 ini mengingatkan kita semua pada peran The Economic Hit Man (EHM) yang telah dibongkar oleh John Perkins, seorang mantan EHM yang bertobat, dengan bukunya The Confessions of An Economic Hit Man (2004) dan The Secret History of The American Empire: Economic Hit Man, Jackals, and The Truth About Global Corruption (2007), yang menundukkan suatu negara lewat uang dengan bantuan dari IMF serta World Bank
.
Butir ke-22 berbunyi: “Meletuskan perang dan memberinya—menjual—senjata yang paling mematikan akan mempercepat penguasaan suatu negeri, yang tinggal dihuni oleh fakir miskin.” Inilah butir-butir doktrin ideologis kaum Zionis Internasional, dimana Zionis Yahudi menjadi pemimpinnya dengan pasukannya yang terdiri dari berbagai ras manusia—termasuk Ghoyim Melayu Indonesia di mana JIL dan LibForAll salah satunya, yang melancarkan konspirasi demi menjadi adi daya dunia. (rz)


Sumber : Edisi Koleksi VIII eramuslim digest 33

SEJARAH UANG

SEJARAH UANG


Ketika itu manusia berpikir keras untuk bisa
menemukan satu benda yang memenuhi syarat untuk
dijadikan uang. Muncullah apa yang dinamakan uang
logam yang terbuat dari emas dan perak. Logam
tersebut dipilih sebagai alat tukar karena memiliki nilai
yang tinggi sehingga digemari umum, tahan lama dan
tidak mudah rusak, mudah dipecah tanpa mengurangi
nilai, dan mudah dipindah-pindahkan. Logam yang
dijadikan alat tukar karena memenuhi syarat-syarat
tersebut adalah emas dan perak.

Sejak kapan umat manusia mengenal uang? Bisa jadi, ini merupakan salah satu dari banyak pertanyaan yang paling sering dikemukakan orang. Ensiklopedia bebas Wikipedia menulis tentang sejarah uang dengan kalimat:
“…pada mulanya, masyarakat belum mengenal pertukaran karena setiap orang berusaha memenuhi kebutuhannnya dengan usaha sendiri. Manusia berburu jika ia lapar, membuat pakaian sendiri dari bahan-bahan yang sederhana, mencari buah-buahan untuk konsumsi sendiri; singkatnya, apa yang diperolehnya itulah yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhannya.

Perkembangan selanjutnya menghadapkan manusia pada kenyataan bahwa apa yang diproduksi sendiri ternyata tidak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhannya. Untuk memperoleh barang-barang yang tidak dapat dihasilkan sendiri, mereka mencari orang yang mau menukarkan barang yang dimiliki dengan barang lain yang dibutuhkan olehnya. Akibatnya muncullah sistem barter’, yaitu barang yang ditukar dengan barang.
Namun pada akhirnya, banyak kesulitan-kesulitan yang dirasakan dengan sistem ini. 

Diantaranya adalah kesulitan untuk menemukan orang yang mempunyai barang yang diinginkan, dan juga
SEJARAH UANG
mau menukarkan barang yang dimilikinya serta kesulitan untuk memperoleh barang yang dapat dipertukarkan satu sama lainnya dengan nilai pertukaran yang seimbang atau hampir sama nilainya.

Untuk mengatasinya, mulailah timbul pikiran-pikiran untuk menggunakan bendabenda tertentu untuk digunakan sebagai alat tukar. Benda-benda yang ditetapkan sebagai alat pertukaran itu adalah bendabenda yang diterima oleh umum (generally accepted), benda-benda yang dipilih bernilai tinggi (sukar diperoleh atau memiliki nilai magis dan mistik), atau benda-benda yang merupakan kebutuhan primer sehari-hari; misalnya Barang-barang yang dianggap indah dan bernilai, seperti kerang ini, pernah dijadikan sebagai alat tukar sebelum manusia menemukan uang logam.

garam yang oleh orang Romawi digunakan sebagai alat tukar maupun sebagai alat pembayaran upah. Pengaruh orang Romawi tersebut masih terlihat sampai sekarang; orang Inggris menyebut upah sebagai salary yang berasal dari bahasa Latin salarium yang berarti garam.

Barang-barang yang dianggap indah dan bernilai, seperti kerang, pernah dijadikan sebagai alat tukar sebelum manusia menemukan uang logam. Namun, walau alat tukar sudah ada, kesulitan dalam pertukaran tetap ada. Kesulitankesulitan itu antara lain karena benda-benda yang dijadikan alat tukar belum mempunyai pecahan sehingga penentuan nilai uang, penyimpanan (storage), dan pengangkutan (transportation) menjadi sulit dilakukan serta timbul pula kesulitan akibat kurangnya daya tahan benda-benda tersebut sehingga mudah hancur atau tidak tahan lama.


Ketika itu manusia berpikir keras untuk bisa menemukan satu benda yang memenuhi syarat untuk dijadikan "uang”. Muncullah apa yang dinamakan uang logam yang terbuat dari emas dan perak. Logam tersebut dipilih sebagai alat tukar karena memiliki nilai yang tinggi sehingga digemari umum, tahan lama dan tidak mudah rusak, mudah dipecah tanpa mengurangi nilai, dan mudah dipindah-pindahkan. Logam yang dijadikan alat tukar karena memenuhi syarat-syarat tersebut adalah emas dan perak.

Uang logam emas dan perak juga disebut sebagai uang penuh (full bodied money) yang memiliki arti sebagai uang yang memiliki nilai sesungguhnya atau nilai intrinsik (nilai bahan) dimana bahan pembuat uang sama dengan nilai nominalnya (nilai yang tercantum pada mata uang tersebut). Pada saat itu, setiap orang berhak menempa uang, melebur, menjual atau memakainya, dan mempunyai hak tidak terbatas dalam menyimpan uang logam.

Sejalan dengan perkembangan perekonomian, timbul kesulitan ketika perkembangan tukar-menukar yang harus dilayani dengan uang logam bertambah sementara jumlah logam mulia (emas dan perak) sangat terbatas sehingga nilainya kian lama kian tinggi.
SEJARAH UANG

Ini sejalan dengan prinsip universal ekonomi di mana ada permintaan tinggi sementara barang langka maka harganya akan menaik, dan juga sebaliknya. Selain itu, penggunaan uang emas dan perak ini juga tidak menjawab pertukaran barang yang kecilkecil alias yang murah, sehingga lama-kelamaan timbullah ide untuk membuat uang kertas (promise money).

Mula-mula uang kertas yang beredar merupakan buktibukti atas kepemilikan emas dan perak sebagai alat/
perantara untuk melakukan transaksi. Dengan kata lain, uang kertas yang beredar pada saat itu merupakan uang yang dijamin sepenuhnya atau 100% dengan emas atau perak yang disimpan di pandai emas atau perak, dan kapan pun bisa ditukar penuh dengan jaminannya.

Pada perkembangan selanjutnya, ketika lembaga-lembaga atau institusi keuangan dalam bentuk yang sederhana sudah dibangun manusia, maka uang kertas yang memiliki nilai nominal tertentu dan lebih kecil ketimbang nilai emas pun kian digemari orang.

Bisa jadi karena dianggap lebih praktis. masyarakat tidak lagi menggunakan emas (secara langsung) sebagai alat pertukaran dan lebih menggunakan Promise Money alias surat utang tersebut sebagai alat tukar.

Fungsi Uang

Secara asasi, fungsi uang adalah sebagai alat pembayaran atau pertukaran. Namun ilmu ekonomi membagi fungsi-fungsi uang ini ke dalam dua kelompok besar yakni Fungsi Asli dan Fungsi Turunan. Fungsi Asli uang ada tiga yaitu: sebagai alat tukar, sebagai satuan hitung, dan sebagai penyimpan nilai. Uang berfungsi sebagai alat tukar atau medium of exchange yang dapat

mempermudah pertukaran. Orang yang akan melakukan pertukaran tidak perlu  menukarkan dengan barang, karena antara lain dianggap tidak praktis, tetapi cukup menggunakan uang sebagai alat tukar. Kesulitan-kesulitan pertukaran dengan cara barter dapat diatasi dengan pertukaran uang.

Uang juga berfungsi sebagai satuan hitung (unit of account) karena uang dapat digunakan untuk menunjukan nilai berbagai macam barang/jasa yang diperjualbelikan, menunjukkan besarnya kekayaan, dan menghitung besar kecilnya pinjaman. Uang juga dipakai untuk menentukan harga barang/jasa (alat penunjuk harga). Sebagai alat satuan hitung, uang berperan untuk memperlancar pertukaran.

Selain itu, uang berfungsi sebagai alat penyimpan nilai (valuta) karena dapat digunakan untuk mengalihkan daya beli dari masa sekarang ke masa mendatang atau bersifat investasi. Ketika seorang penjual saat ini menerima sejumlah uang sebagai pembayaran atas barang dan jasa yang dijualnya, maka ia dapat menyimpan uang tersebut dalam waktu yang tidak terbatas untuk digunakan membeli barang dan jasa di masa mendatang.

Selain ketiga hal di atas, uang juga memiliki fungsi lain yang disebut sebagai Fungsi Turunan. Fungsi turunan itu antara lain uang sebagai alat pembayaran, sebagai alat pembayaran utang, sebagai alat penimbun atau pemindah kekayaan (modal), dan alat untuk meningkatkan status sosial.

Dalam perjalanannya, uang yang tadinya berasal dari bahan yang sungguh-sungguh bernilai secara intrinsik, di kemudian hari diubah dibuat dari bahan yang sesungguhnya tidak memiliki nilai seperti kertas dan juga logam jenis besi atau campuran namun masih secara penuh alias 100% didukung oleh persediaan emas dan perak. Namun dalam perjalanannya, dan ini lebih didasari kejahatan kaum Yahudi, uang dijadikan sebagai alat penjajahan dan tidak lagi diback-up secara penuh oleh cadangan emas dan perak. Uang bukan lagi sebagai sekadar alat tukar namun telah dibelokkan menjadi salah satu instrumen utama alat penjajahan. (rz)��

Sumber : 26 eramuslim digest Edisi Koleksi VIII

ITJ